Cinnamomum burmannii

Standar

Cinnamomum burmannii

g1

Merupakan spesies yang berasal dari Family Lauraceae dan Genus Cinnamomum. Dalam Bahasa Inggris  Sering dikenal dengan nama Cinnamomum tree. Biasanya disebut dengan padang cassia. Sedangkan dalam bahasa Indonesia biasa disebut kayu manis. Dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan ”kaneel” Jawa. Penyebaran Cinnamomum burmannii di indonesia banyak terdapat di daerah Sumatra, khususnya di daerah Sumatra Barat dan Kerinci. Nama daerahnya yaitu di Sumatra : holim, holim manis, modang siak-siak (Batak), kanigar, kayu manis (Melayu), madang kulit manih (Minangkabau). Jawa  Huru mentek, kiamis (Sunda), kanyengar (Kangean). Kesingar (Nusa Tenggara), kecingar, cingar (Bali), onte (Sasak), kaninggu (Sumba), Puu ndinga (Flores). Warga Lauraceae seperti Cinnamomum burmannii ini, merupakan penghuni daerah-daerah yang seluruhnya mencakup lebih dari 1000 jenis yang terbagi dalam sekitar 50 marga. Tanaman ini juga terdapat di daerah Srilanka. Tetapi di daerh Srilanka, kulit batangnya lebih tipis dari kulit batang  Cinnamomum burmannii yang ada di Indonesia. Dikenal 2 varietas, varietas pertama yang berdaun muda berwarna merah pekat dan varietas kedua berdaun hijau ungu. Varietas pertama terdiri dari 2 tipe, ialah tipe pucuk merah tua dan tipe pucuk merah muda. Varietas yang banyak ditanam di daerah pusat produksi di Sumatra Barat dan Kerinci adalah varietas pertama. Varietas kedua hanya didapat dalam jumlah populasi yang kecil. Kayu manis pucuk merah mempunyai kualitas yang lebih baik, tetapi produksinya lebih rendah daripada kayu manis yang berpucuk hijau.

Ekologi dan penyebaran yang asli tumbuh secara liar di hutan Malaysia, Cina dan Indonesia pada ketinggian 1000 m sampai 1500 m di atas permukaan laut dengan suhu 18º sampai 23º. Tanaman dapat tumbuh pada ketinggian 0 m sampai 2000 m di atas permukaan laut, tetapi yang terbaik dan banyak diusahakan dengan produksi yang memuaskan, adalah pada ketinggian 500 m sampai 1500 m di atas permukaan laut. Tanah yang paling cocok adalah tanah yang subur, gembur, agak berpasir dan kaya akan bahan organik. Pada tanah yang liat keadaannya kurang baik. Pusat produksi di Sumatra Barat tanahnya adalah andosol dan latosol, ditanam di lereng-lereng gunung, baik yang agak landai maupun yang curam. Pada tanah yang berpasir akan memberikan hasil kulit yang paling harum. Di tempat rendah tumbuhnya lebih cepat daripada di tempat tinggi, tetapi di tempat rendah kulit yang dihasilkan kurang tebal, dan rasanya juga agak kurang. Di tempat tinggi pertumbuhannya lambat, tetapi kulitnya lebih tebal dan berkwalitas lebih baik. Tanaman kayu manis menghendaki banyak hujan, merata sepanjang tahun dan lembab. Curah hujan yang dikehendaki adalah 2000 mm sampai 2500 mm tiap tahun tanpa ada bulan-bulan yang kering. Tipe curah hujan yang terbaik terutama terdapat di daerah Kerinci.

Cinnamomum memiliki akar tunggang dan batang yang kuat dan keras, berkayu dan bercabang. Berbentuk pohon dengan tinggi 6-12 m. Kadang pula mencapai 15 m. Ranting tua gundul. Kulit dan daun kalau diremas berbau kayu manis yang kuat. Dimana semua bagian memiliki bau khas aromatik kayu manis. Daunnya merupakan daun tunggal (kadang-kadang bertulang melengkung) yang duduknya tersebar, kadang-kadang berhadapan, tidak mempunyai penumpu. Daun berpenulangan 3 ; panjang tangkai daun 0.5 cm sampai 1.5 cm. Pada prosesnya, daun berlawanan atau berganti warnanya. Awalnya berwarna merah muda kemudian berwarna hijau muda di atas. Daunnya berbentuk bulat telur atau elips memanjang dengan ujung membulat atau tumpul meruncing, 6-15 kali 4-7 cm, seperti kulit kuat.

Bunga berada ditangkai yang yang panjang, lemah, dan kuncupnya lembut, bercabang dan duduk di ketiak dengan cabang yang berambut abu-abu. Merupakan bunga malai. Bunganya berkelamin tunggal dan taju tenda bunga biasanya 2-5 dan panjang 3-5 mm, berwarna putih kekuningan dimana dilihat dari luar terlihat berambut abu-abu keperak-perakan, Sedikit membuka tetapi tidak rontok dan dalam waktu yang sangat cukup setelah mekar akan sobek melintang. Biasanya tertanam pada tepi sumbu bunga. Bunga ini memiliki 4 ruang sari. Bunga Cinnamomum burmannii ini memiliki 12 benang sari dalam 3-4 lingkaran, biasanya tersusun dalam 4 lingkaran terdalam yang steril. Benangsari lingkaran ketiga mempunyai kelenjar di tengah-tengah tangkai sari. Buah adalah buah buni, panjang lebih kurang 1 cm. Didalam lingkaran tersebut terdiri atas sejumlah benang sari yang sama dengan jumlah daun-daun tenda bunga dalam lingkarannya, yang pada lingkaran dalam sering bersifat mandul sebagai staminodium dimana kepala sari membuka dengan katup. Bakal buah menumpang atau terdapat dalam lekukan dasar bunganya. Dimana mempunyai 1 bakal biji yang anatrop dengan 2 in-tegumen. Bakal buah menyerupai buah batu. Bijinya tidak memiliki endosperm, dimana lembaga memiliki daun lembaga yang besar didalamnya. Daun, dan kulit batang (gelam) terdapat sel-sel yang mengandung minyak atsiri. Tanaman ini termasuk dalam tanaman C3

Taksonomi dari Cinnamomum burmannii yaitu :

Kingdom  : Plantae

Division   : Magnoliophyta

Class       :  Magnoliopsida

Order      :  Laurales

Family     : Lauraceae

Genus      : Cinnamon

Species    : Cinnamomum burmannii

Kulit Kayu manis Padang adalah kulit batang Cinnamomum burmannii dalam perdagangan dikenal dengan nama Cassia vera. Bau khas aromatik ; rasa agak manis, agak pedas dan kelat. Makroskopik. Potongan kulit : bentuk gelondong, agak menggulung membujur, agak pipih atau berupa berkas yang terdiri dari tumpukan beberapa potong kulit yang tergulung membujur ; panjang sampai 1 m, tebal kulit 1 mm sampai 3 mm atau lebih. Permukaan luar : yang tidak bergabus berwarna coklat kekuningan atau coklat sampai coklat kemerahan, bergaris-garis pucat bergelombang memanjang dan bergaris-garis pendek melintang yang menonjol atau agak berlekuk ; yang bergabus berwarna hijau kehitaman atau coklat kehijauan, kadang-kadang terdapat  bercak-bercak lumut kerak berwarna agak putih atau coklat muda. Permukaan dalam : berwarna coklat kemerahan tua sampai coklat kehitaman. Bekas patahan tidak rata. Mikroskopik. Pada kulit yang lapisan luarnya belum dibuang akan tampak : lapisan epidermis dengan kutikula berwarna kuning ; lapisan gabus terdiri dari beberapa sel berwarna coklat, dinding tangensial dan dinding radial lebih tebal dan berlignin ; kambium gabus jernih tanpa penebalan dinding. Korteks : terdiri dari beberapa lapis sel parenkim dengan dinding berwarna coklat, diantaranya terdapat kelompok sel batu, sel lendir dan sel minyak.

Sel parenkim : didalamnya banyak terdapat butir pati atau hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Lapisan sklerenkim : terdapat di bawah parenkim korteks, hampir tidak terputus-putus, terdiri dari 3 atau lebih lapisan sklerida, diantaranya terdapat sejumlah kelompok kecil serabut periskel. Sklereida : berbentuk isodiametrik, kadang-kadang agak terentang tangensial, penebalan dinding berbentuk huruf U dengan dinding dalam dan dinding radial lebih tebal dari dinding luar, berlapis-lapis, berwarna kekuningan, bernoktah, berlignin tebal, lumen agak lebar, kadang-kadang berisi butir pati. Serabut periskel : berdinding sangat tebal, agak jernih, berlignin, lumen sempit, garis tengah serabut lebih kecil dari garis tengah sel batu. Floem sekunder : terdiri dari jalur-jalur tangensial jaringan tapis, berseling dengan parenkim floem ; diantara parenkim terdapat sel minyak dan sel lendir seperti pada korteks ; parenkim mengandung butir pati dan hablur seperti pada korteks. Serabut floem sekunder : umumnya tunggal atau dalam kelompok kecil berderet ke arah tangensial, dinding serabut sangat tebal, jernih, agak berlignin, garis tengah serabut sampai 3.5 μm, lumen sempit. Jari-jari empulur : terdiri dari 1 sel sampai 2 sel, mengandung butir pati atau hablur kalsium oksalat bentuk prisma kecil ; hablur di jari-jari empulur lebih banyak daripada hablur di parenkim floem. Serbuk : warna coklat kekuningan. Fragmen pengenal adalah sklereida dengan penebalan dinding tidak rata ; serabut periskel dan serabut floem ; butir-butir pati dan hablur kalsium oksalat bentuk prisma, lepas atau dalam parenkim ; jaringan parenkim dengan sel lendir atau sel minyak ;  sel gabus dan serabut sklerenkim.

g2


Daftar Pustaka :

Anonim, 1997, Materia Medika Indonesia jilid I, 40 – 41 ; 43 – 45, Depkes, Jakarta.

Anonim, 2007, Cinnamomum burmannii, http : //www.henriettesherbal.com., diakses 27 April 2007.

Anonim, 2007, Cinnamomum burmannii (Nees &Th.Nees) Nees ex Blume Padang cassia, http : //www.usda.com., diakses 27 April 2007.

Anonim, 2005, Kayu Manis (padang), http : //www.PortalIPTEK.net., diakses 26 April 2007.

Anonim, 2007, kayu manis, http : //www.wikipedia.org., diakses 26 April 2007.

Steenis, A., 1981, Flora Untuk Sekolah di Indonesia cetakan ketiga, 206, Pradnya Paramita, Jakarta Pusat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s