MUSA dan JAHWE

Standar

Musa

Musa adalah tokoh jang tidak dapat dilepaskan dari pengungsian Israil dari Mesir dan dari pembentukan bangsa itu digurun. Kitab Sutji membitjarakan tokoh itu terutama dalam kitab Pengungsian, Levitika, Tjatjah Djiwa dan Ulangtutur. Selandjutnja sungguhpun namanja tidak amat sering disebut lagi, namun tokoh itu se-olah-olah selalu dilatarbelakang dan hadir di-mana-mana. Sampai dalam Perdjandjian Baru Musa njatalah tokoh jang amat penting. Demikian pentingnja sehingga Perdjandjian Baru mensedjadjarkan (kadang-kadang mempertentangkan) Musa dan Jesus. Jesus se-olah-olah Musa jang baru.

Pengetahuan tentang diri Musa dan riwajat hidupnja seluruhnja harus diambil dari Kitab Sutji. Berita-berita lain tentang dia tidak ada. Berita-berita Kitab Sutji berasal dari pelbagai tradisi dan mempunjai tjirinja sendiri, jakni berupa tjerita rakjat dan renungan keagamaan. Maka itu tak mungkin riwajat hidup Musa direkonstruir menurut kebenaran sedjarah. Tokoh jang besar itu menarik kepada dirinja pelbagai dongeng jang djuga diketemukan dalam dokumen-dokumen dari djaman dahulu sehubungan dengan tokoh-tokoh besar lainnja. Tentang beberapa tokoh sedemikian itu misalnja ditjeritakan, bahwa mereka waktu masih ketjil terantjam hidupnja oleh musuhnja tapi setjara adjaib diselamatkan (Musa dalam kerandjang disungai Nil; tjerita jang hampir sama dikisahkan tentang radja Assyriah Sargon). Lalu mereka mendapat kedudukan tinggi, masuk istana radja, kawin dengan puteri radja dsb. (Musa dipungut oleh puteri Fare’o dan mendapat pendidikan diistana radja Mesir). Namun demikian tidak dapat dipungkiri, bahwa Musa sungguh seorang tokoh kesedjarahan jang teramat penting untuk bangsa dan agama Israil.

Nama Musa (Hibraninja: Mosjeh) sesungguhnja nama Mesir dan bukan nama Hibrani. Hal itu kiranja membuktikan bahwa Musa sungguh berasal dari Mesir. Kitab Sutji (Peng 2:10) memberikan keterangannja sendiri tentang nama itu (jang ditarik dari air), tetapi keterangan itu bertjorak populer. Mula-mula nama Musa kiranja terdiri atas dua bagian, jakni: nama seorang dewa dengan achiran “moses”. Arti achiran itu tidak diketahui. Boleh dibandingkan nama beberapa Fare’o Mesir, misalnja: Tut-Moses (Tut=dewa Tut) atau Ra-meses (Ra=dewa Ra). Kemudian nama dewa dibuang dari nama Musa, sehingga tersisa hanja “Mosjeh”.

Menurut pendapat jang lebih umum diterima maka Musa hidup didjaman Fare’o Ramses II (bdk Peng 1:11) jang memerintah Mesir th 1303-1242 seb. Mas. Kalau demikian pengungsian Israil dibawah pimpinan Musa djuga terdjadi didjaman itu. Meskipun berita Kitab Sutji bahwa Musa dididik dalam istana Fare’o (Peng 2:10) berupa dongeng, namun kiranja benar djugalah ia sungguh mahir dalam kebudajaan Mesir jang bermutu tinggi didjaman itu. Kiranja benar pulalah, bahwa Musa (dia sendiri atau marganja) mempunjai hubungan dengan suku badui Midian (Peng 2:15-22) dan ia mungkin terpengaruh oleh agama suku itu (Isterinja puteri seorang iman suku itu!). Sudah pasti djuga bahwa Musa memainkan peranan penting dalam pengungsian (beberapa) suku-suku Semit dari Mesir. Kemudian ia mengorganisir suku-suku itu atas dasar agama bersama dan ibadah serta hukum jang sama djuga. Sudah barang tentu organisasi itu masih amat primitif dan tidak sesempurna jang diberitahukan Kitab Sutji. Namun demikian Musalah jang meletakkan dasar kesatuan bangsa dan agama jang selandjutnja berkembang.

Agama jang diberikan Musa kepada suku-suku itu kiranja berupa menoteisme dan tidak lagi berupa mono-latria seperti agama para leluhur. Sudah barang tentu monoteisme tsb. bukan monoteisme filsafat, melainkan suatu monoteisme praktis. Bagi Musa tidak ada Allah ketjuali Allahnja sendiri tanpa memikirkan nasib dewata atau mengambil segala konsekwensi dari pendiriannja itu. Boleh ditjatat djuga bahwa agama di Mesir sudah berkembang menudju suatu monoteisme didjaman Fare’o Akhn-aton (=Amenofis IV sekitar th 1370 seb. Mas.). Tetapi Musa menjamakan Allahnja dengan Allah leluhur Israil.

Kitab sutji memperkenalkan Musa terutama sebagai nabi dan pembuat hukum. Musa adalah djurubitjara Jahwe; dengan perantaraannja Allah memberitahukan kehendakNja kepada Israil. Musa bukan pertama-tama pahlawan nasional melainkan pendiri agama. Selaku nabi Musa djuga mengartikan segala hal-ihwal jang mendatangi Israil di Mesir dan digurun sebagai turun tangan Allah baik untuk menjelamatkan maupun untuk menghukum. Oleh karena Musa djuga memberitahukan kehendak Tuhan, maka ia mendjadi pembuat hukum pula. Memang Kitab Sutji mempertalikan semua hukum dengan diri Musa, meskipun kebanjakan sesungguhnja hasil keadaan sosial dan perkembangan sedjarah. Namun demikian Musalah sebagai jang pertama meletakkan dasar tatahukum Israil. Mungkin sekali dekalog (10 perintah) dalam bentuk primitifnja dibuat oleh Musa sebagai undang bersama bagi semua suku jang dapat dipersatukannja.

Musapun kiranja jang pertama menganggap hubungan Israil dengan Allahnja sebagai suatu “perdjandjian”. Suku-suku jang dipimpin Musa masuk persekutuan jang berdasarkan agama dan Allah bersama. Perdjandjian ini diartikan oleh Musa sebagai suatu perdjandjian dengan Allah, jang sesungguhnja mendjadi dasar perdjandjian tsb. Gagasan “perdjandjian” itu kiranja diambil Musa dari dunia politik didjamannja. Hubungan Israil dengan Allah dianggap mirip dengan hubungan seorang maharadja dengan radja-radja taklukannja jang tunduk kepadanja dengan rela maupun terpaksa. Allah adalah radja semua suku itu dan mereka dengan rela menerima perdjandjian jang ditawarkan kepadanja oleh Allah. Maka merekapun menaklukkan diri kepada Jahwe dan dilindungi olehNja. Demikian persekutuan suku-suku diartikan oleh Musa.

Jahwe

Jahwe adalah nama diri Allah Israil. Nama itu (jhwh) djuga terdapat dalam Kitab Sutji singkatannja, jaitu: Jah, Jaho (Jahu), Jo (Ju). Singkatan tsb. tidak atau djarang dipakai tersendiri, melainkan biasanja sebagai bagian nama diri orang. Misalnja: Jeho-sjua’, Jo-jakim, Jeho-sja-fat, Jerem-jahu, Jesja-jah (u), dsb. “Jehova” jang kadang-kadang dipakai orang sudah barang tentu salah. Utjapan itu berasal dari adat-kebiasaan orang Jahudi didjaman belakangan. waktu nama Jahwe tidak boleh disebut lagi karena kudus. Mereka membubuhkan huruf hidup dari sebutan “A (E) donaj” (=Tuhan) pada huruf mati nama Jahwe. Djadi jhwh diberi huruf hidup e, o, a. Demikian lahirlah “Jehova” (atau Jehowa).

Para ahli belum sependapat tentang makna nama Jahwe. Kiranja harus dihubungkan dengan kata (kerdja) Hibrani jang berarti: ada. Lalu “Jahwe” dapat diartikan sebagai “Jang Ada” (demikian terdjemahan Junani Septuaginta). Kalau demikian maka nama itu menundjukkan hakikat, zat Allah: jang ada karena diriNja sendiri. Tapi boleh djuga diartikan sebagai: “Jang membuat ada”, dengan perkataan lain: Jang mengadakan, mentjiptakan. Djadi Allah dipandang sebagai Pentjipta, baik alam semesta maupun chususnja Israil. Achirnja nama Jahwe boleh diartikan sbb: “Jang ada hadir”, jaitu untuk melindungi, membela dan memberkati. Allah lalu dipandang chususnja sebagai jang berbuat sesuatu bagi Israil, manusia, sebagai Penolong dan Penjelamat. Kiranja keterangan terachir inilah jang paling baik. Keterangan itupun lebih sesuai dengan Peng. 3:13-15. Teks ini kiranja tidak bermaksud mengatakan bahwa Allah enggan memberitahukan namaNya kepada Musa.

Tentang asal nama Jahwe itu para ahli djuga masih berselisih paham. Menurut Kitab Sutji (Peng 3:13-15) nama itu diwahjukan kepada Musa dan sebelumnja belum diberitahukan (Peng 6:2-3). Namun demikian dikatakan djuga (Kej 4:26) bahwa Allah dengan nama Jahwe sudah dipudja sebelum air-bah. Sebelum wahju kepada Musa sudah ada nama orang jang memuat nama Jahwe. Ibu Musa sendiri (Peng 6:20) bernama: Jo-kabed. Dokumen-dokumen dari dahulukala djuga memberitahukan, bahwa pada bangsa-bangsa disekeliling Israil ada dewa jang bernama Jo atau Yau, jang sama sadja dengan Jahwe. Tetapi bagaimanapun djua duduk perkaranja, Musa membuat nama itu mendjadi nama Allah Israil jang chas dan memberinja arti dan isi jang baru. Halnja tjukup serupa dengan nama “Allah” dalam bahasa Arab. Sebelum Muhammad tampil orang-orang Arab memang sudah memudja dewa “Allah”, jang dianggap dewa tertinggi didunia kedewataan. Tetapi Muhammad membuatnja mendjadi nama Allah Islam jang chas, bukan dewa tertinggi melainkan Allah jang Mahaesa.

Nama Jahwe dalam Kitab Sutji selalu menundjuk kepada hubungan chas jang ada antara Allah dan Israil. Allah jang memilih Israil mendjadi umatNja serta melindungi dan memimpinnja (atau menghukumnja) disebut Jahwe. Karena itupun tak pernah nama itu dipergunakan oleh kaum kafir jang berbitjara tentang Allah Israil. Demikianpun tidak disebut Jahwe, apabila orang Israil berbitjara tentang Allah dalam hubungannja dengan bangsa-bangsa lain.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s