MASMUR

Standar

  1. Arti kata.

    Kata Indonesia “Mazmur” Yang lewat bahasa Arab berasal dari bahasa Etiopia, bersangkutan dengan kata Hibrani “Mizmor”. Kata ini menunjuk suatu lagu yang dinyanyikan dengan diiringi alat-alat musik (yang berupa-rupa) yang pakai tali. Sejak zaman azali bangsa Israil dan bangsa-bangsa Semit lainnya suka akan nyanyian (kerap kali seni sastera pertama dalam salah satu bahasa). Sisanya masih diketemukan dalam Kitab Suci (bdk. Pengk 15; Tj Dj. 21:17-18; Hakim-hakim 5; 2Sam 1; 1Mak 3:3-9; 14:4-15). juga untuk mengekspresikan rasa keagamaan seni sastera itu dipergunakan. Dan lagu-lagu keagamaan macam itu dinamakan mazmur. Mazmur-mazmur terserak-serak dalam seluruh Kitab Suci Perjanjian lama (bdk Ul 32:1-43; 1Sam 2:1-10; Dan 3:52-90; 1Taw 29:10-19; Tb 13:1-8; Jdt 16:13-17; Jr 31:10-14; Js 45:14-25; Sir 36:1-17) dan masih djuga dalam Perdjandjian Baru (Luk 1:68-79; 2:29-32; 1:46-55). Lagu-lagu macam itu bukan keistimewaan umat Israel. Diluar Israel, khususnya dinegeri Babel, jenis sastera itu disukai dan sangat dipergunakan. Penggalian-penggalian di Mesopotamia sudah menampilkan sejumlah besar mazmur yang juga dipergunakan dalam ibadah kepada dewata Babel.

  2. Djenis sastera.

    Mazmur adalah seni sastera, puisi, dan jenis sastera yang khas. Mazmur bukanlah suatu risalat ilmiah, meski risalat keagamaan sekalipun. Ia pun bukan kriteria atau kisah. Memang mazmur-mazmur mengekspresikan pikiran (adakalanya sangat dalam dan halus sekali), tapi lebih-lebih mengungkapkan perasaan hati serta intuisi yang bermacam-ragamnya. Maka itu tidak semua perkataan boleh ditimbang-timbang dengan akal. Sebaliknya hanya dengan perasaan hati orang dapat menembusi kulit (kadang-kadang agak keras sedikit) untuk sampai kepada hati si pemazmur.

    Mazmur bukan hanya seni sastera puisi, tetapi seni sastera Semit dan Israel. Puisi itu ada patokan-patokan dan kaidah-kaidahnya sendiri yang chas, yang dituruti oleh mazmur-mazmur Kitab Suci juga. Puisi itu berdasarkan pada rythmus, artinya: sukukata yang bertekanan dan yang tak bertekanan bergilir ganti menurut urutan tertentu. Biasanya tiap-tiap bagian (ayat) terdiri atas dua bagian lagi (stychos), meskipun tidak selalu demikian susunannya. Kerap kali bagian kedua hanya mengulang dengan kata-kata lain pikiran-perasaan yang sudah terungkap dalam bagian pertama. Kadang-kadang diulang secara positip, lain kali secara negatif dan boleh jadi bagian kedua mengembangkan dan memperluas sedikit stychos yang pertama. Gedjala jang chas Hibrani (Semit) itu disebut “parallelismus”, kesejajaran. Apabila pikiran-perasaan stychos pertama hanya diulang secara positif saja, maka orang berkata tentang: parallelismus sinonim (bdk. Mzm 61:2); jika pikiran-perasaan diulang secara negatip maka disebutkan: parallelismus anti-tetis (bdk Mzm 32:10); apabila pikiran-perasaan dikembangkan dan diperluas maka dikatakan: parallelismus sintetis (bdk Mzm 135:16).

    Puisi Hibrani (Semit) suka akan bahasa kiasan, bahasa penghebat dan macam-macam gambaran yang hebat juga. Itulah sebabnya maka mazmur-mazmur kerap kali sukar dimengerti dan diartikan, apalagi oleh karena kiasan dan gambaran itu diambil dari alam dan kebudayaan jang bukan alam dan kebudayaan kita. Tetapi bagaimanapun juga kiasan dan gambaran itu jangan diartikan setjara harfiah. Kadang-kadang kiasan Kitab Suci dapat membingungkan terutama kalau diterapkan kepada Allah sendiri yang nampak seolah-olah manusia (anthropomorphismus).

    Mazmur-mazmur bukan hanya senisastera (karap kali bermutu tinggi), tetapi terlebih puisi keagamaan. Lagu-lagu yang terpelihara dalam Alkitab adalah doa dan sembayang umat Israel dan kaum beriman. Didalamnya terungkap rasa keagamaan yang bermacam-macam dan tanggapan serta jawaban karya beriman dan umat Allah terhadap sabda Tuhan, tindakan-tindakan serta kaumnja. Dan itulah sebabnja maka mazmur-mazmur itu terpelihara dalam Kitab Suci dan diinspirasikan oleh Roh Kudus. Dengan mazmur-mazmur itu orang memui Allah Pencipta (Maz 104) serta sifat-sifatnya (Mzm 113:7-9); orang bersyukur kepadaNja (Mzm 23); mengucapkan kepercayaan (Mzm 27:1-6) dan sesal hati (Mzm 51) serta permohonan dalam kesesakan (banyak mazmur).

  3. Mazmur-mazmur bukan terutama doa saja tetapi juga dan terutama doa/sembahyang liturgis. Asal mazmur-mazmur kerap kali tidak lagi dapat ditentukan. Tapi pasti ada sejumlah lagu jang chusus diciptakan untuk ibadah umat (Mzm 65; 66; 67; 118; 113-117; 120; 134). Ada juga sejumlah yang diciptakan untuk keperluan perorangan dan pribadi (Mzm 30; 38; 70; 92; 94; 130; 131; dll.), tetapi kemudian dipakai dalam ibadah umat dan kalau perlu diadaptasikan kepadanya serta disadur. corak liturgis mazmur-mazmur itu perlu diperhatikan, supaya lagu-lagu itu dimengerti dan diartikan dengan tepat.

  4. Kitab Mazmur.

    Kitab Mazmur terdapat dalam bagian ketiga kanon Hibrani (kethubim). Dalam bahasa Arab kitab ini disebut “Zabur”, sedangkan dalam bahasa Hibrani dinamakan “Tehillim”. “Tehillim” sebenarnya berarti: lagu-lagu pujian/madah, sehingga nama itu tidak cocok dengan sebagian besar dari isi Kitab Mazmur. Sebab didalamnya terkumpul lagu-lagu yang bermacam ragam dan hanya sebagian boleh disebut “Lagu Pudjian”.

    Kitab Mazmur sebagaimana sekarang ada terdiri atas lima bagian, jilid, sejalan dengan “Lima Kitab Musa” (Taurat). Tetapi pembagian itu agak baru sedikit. Kapan dibuat belum diketahui dengan pasti, tetapi sekitar tahun 250 seb. Mas. sudah ada (Terjemahan Yunani Septuaginta) dan boleh jadi sudah dikenal sekitar tahun 300 seb. Mas. (bdk, 1Taw 16). Tiap-tiap “buku”, jilid, ditutup dengan pujian pendek kepada Allah (Mzm 41:14; 72:18-20; 89:52; 106:48; 150).

    Kitab Mazmur yang tercantum dalam Alkitab adalah merupakan hasil suatu perkembangan dan proses yang berlangsung lama. Kapan mazmur (manakah?) yang tertua diciptakan tidak dapat diketahui lagi. Tapi boleh diterima bahwa ada beberapa mazmur dari zaman raja Dawud (abad X seb. Mas.) dan tjiptaan Dawud sendiri (bdk. 1Sjem 16:18-23; 18:10, Amos 6:5). Ada juga sejumlah mazmur yang kiranya berasal dari zaman para raja (lk. 900-600 seb. Mas.) (bdk. Mzm 2; 18; 20; 21; 28; 61; 63; 72; 84; 101; 110; 123; 144; 145). Tetapi senisastera itu mengalami masa jayanya terutama sesudah pembuangan (tahun 538-333 seb. Mas.)

    Terlebih dahulu pelbagai lagu dihimpun dalam kumpulan kecil dan tersendiri. Bekasnya masih diketemukan dalam Kitab Mazmur, misalnya: Mzm 95-100 (kerajaan Allah), Mzm 120-134 (nyanyian pendakian). Kemudian disusun kumpulan-kumpulan lebih besar, yaitu Mzm 3-41; 42-89; 90-150 Achirnya semuanya menjadi satu kumpulan besar yang secara buat-buatan dibagikan jadi lima jilid.

  5. jenis-jenis Mazmur.

    Didalam Kitab Mazmur terhimpun 150 lagu yang berlain-lainan coraknya. Setjara kasar dapat dibedakan jenis-jenis mazmur sebagai berikut, meskipun pembagian itu tentu saja tidak merangkum semua lagu yang ada.

    1. Lagu-lagu Pujian atau Madah (Mzm 8; 19; 29; 33; 46-48; 76; 84; 87; 93; 96; 100; 103-106; 113; 114; 117; 122; 135; 136; 145-150). Lagu-lagu ini memuji Allah, sifat-sifatnya serta karyaNya baik dalam alam maupun dalam sejarah umat Israel. Ada sejumlah mazmur yang memuji kota Sion, Jerusjalem, tidak hanya karena adalah kediaman raja teokratis, tapi lebih-lebih karena kota itu adalah kediaman Allah Israel (Mzm 46; 48; 76; 87). Demikianpun martabat kerajaan Allah (eskatologis) yang memerintah dunia semesta dimulaikan (Mzm 47; 93; 96-98).

    2. Banyak mazmur berupa lagu ratap, yang diucapkan dalam kesesakan dan sengsara berupa-rupa. Kerap kali dengan bahasa kiasan dan penghebat dipaparkan didalamnya sengsara si pendoa. Kiasan dan gambaran yang dipergunakan biasanya sangat tradisionil, sehingga kesamaan antara mazmur-mazmur itu sangat menjolok. Sifat tradisionil itupun menyebabkan pula bahwa sengsara konkrit kerap kali sukar ditentukan.
      Ada sejumlah lagu ratap kolektip yang mengenai umat Allah seluruhnya (Mzm 12; 44; 60; 74; 79; 80; 83; 85; 106; 123; 129; 137) dan lebih banyak lagi yang merupakan lagu ratap perorangan dan pribadi (Mzm 3; 5-7; 13; 17; 22; 25; 26; 28; 31; 35; 38; 42; 43; 51-57; 59; 63; 64; 69; 70-71; 77; 86; 102; 120; 130; 140-143). Akan tetapi sehubungan dengan lagu-lagu ini perlu dicatat bahwa kerap kali tidak jelas apakah sipendoa sungguh adalah seseorang secara perseorangan atau wakil umat seluruhnya, mungkin pula umat diperorangkan. Maka itu kalaupun dalam mazmur-mazmur itu dipakai kata ganti diri pertama (aku) namun belum pasti bahwa “aku” itu sungguh hanya satu orang saja.

    3. Lagu-lagu syukurpun tidak sedikitlah jumlahnya dalam Kitab Mazmur (Mzm 18; 21; 30; 34; 49; 65-68; 92; 116; 118; 124; 129; 138; 144). Umat (atau seseorang) mengucapkan syukurnya karena salah satu karunia yang diterima dari Tuhan. Kerap kali sekaligus dipanjatkan suatu doa permohonan meminta pertolongan selanjutnya juga.

    4. Ada juga beberapa nyanyian yang berasal dari istana raja dan mengenai diri raja serta wangsanya (Mzm 2; 18; 20; 21; 45; 61; 72; 84; 101; 132; 144). Mazmur-mazmur ini mengingatkan kepada sastera-istana yang lazim didaerah-daerah disekitar Israel. Beberapa dari mazmur itu diterapkan kepada raja yang dicita- citakan dimasa depan, yaitu al-Masih (Mzm 2; 45; 72; 110; bdk Mzm 89; 132)

  6. Pengarang-pengarang Mazmur.

    Tentang pengarang-pengarang/pencipta-pencipta mazmur-mazmur tidak banyak yang dapat dikatakan dengan pasti. Dalam judul banyak mazmur disebutkan nama seseorang: Dawud (73x), Asaf (12x), Putera-putera Korah (11x), Etan (Jedutun)(1x), Heman (1x), Musa (1x), dan Sulaiman (1x). Maksud nama (dan konstruksi Hibrani: le) tidak jelas lagi. Aselinya kiranya tidak (selalu) menunjukkan pencipta lagu itu. Hanya kemudian sering diartikan demikian. Maka dari itu harus diakui saja bahwa hampir semua mazmur adalah anonim dan hanya dapat disebut “ciptaan umat Israel” sepanjang sejarahnya dari abad X hingga abad III seb. Mas. Sebab kebanyakan mazmur juga tidak dapat diberi bertanggal.

  7. Penjesuaian mazmur-mazmur dengan wahju jang madju.

    Setelah salah satu mazmur diciptakan dalam situasi tertentu dan diambil alih oleh umat, maka lagu itu ikut serta dalam sejarah keagamaan umat itu. Terus-menerus diadaptasikan kepada situasi yang baru. Dengan demikian interpretasi mazmur yang sama maju dan berkembang. Perkembangan itu boleh digariskan sebagai berikut: Salah seorang (atau umat pada detik tertentu) mengucapkan perasaannya pada ketika itu.

    Umat mengambil alih lagu itu tapi mengungkapkan dengannya perasaan yang kolektip. Kemudian keadaan umat berubah dan kepada mazmur yang lama itu diberikan suatu tafsir baru sesuai dengan keadaan baru itu.

    Umat keristen kembali menginterpretasikan lagu itu serta mengetrapkannya pada situasi khasnya, yakni situasi masehi. Maka dari itu banyak mazmur diberi makna masehi, sekalipun begitu saja tidak dapat diketemukan dalam lagu asli.

    Boleh jadi Gereja dalam ibadahnya sekali lagi dan secara lain mengetrapkan mazmur yang sama.

    Akirnya masih mungkin bahwa orang keristen secara perorangan mengungkapkan perasaan pribadinya dengan perkataan asli itu.

    Sebagai contoh boleh diambil Mazmur 2. Aslinya lagu itu merupakan suatu doa seorang Israel (pegawai istana) untuk rajanya ketika terancam oleh musuh-musuh dari luar negeri.

    Ibadah Bait Allah menjadikan mazmur itu suatu doa resmi dan liturgis bagi setiap raja, entah bagaimana keadaannya.

    Sesudah tahun 586 raja tidak ada lagi, sehingga lagu kuno itu harus diberi makna baru. Maka itu diterapkan kepada raja yang dimasa depan, jaitu Al-Masih.

    Umat keristen semula mengakui Jesus sebagai Al-Masih dan karenanya segera mengetrapkan mazmur itu kepada Rajanya (Kis 4:25-26), khususnya kepada kebangkitanNya dari alam maut yang merupakan pelantikannya sebagai raja (Kis 4:33). Surat kepada orang-orang Hibrani (1:5; 5:5) mengetrapkannya kepada pelantikan Kristus sebagai imam agung surgawi.

    Ibadah katolik akhirnya menggunakan mazmur ini untuk mengungkapkan keyakinannya bahwa Kristus adalah raja dunia semesta. MartabatNya itu berdasarkan kenyataan bahwa Kristus adalah Putera Allah kekal yang telah menjadi manusia dan diangkat kesurga. Ia menjadi kepala jagat raya.

    Orang keristen masing-masing boleh menggunakan lagu kuno itu untuk menjatakan rasa hormatnya terhadap Kristus dan demikian mangakuiNya sebagai rajaNya sendiri yang mau ditaati.

Mazmur-Mazmur Sulaiman

Mazmur-mazmur Sulaiman adalah sekumpulan lagu, yang 18 jumlahnya. Lagu-lagu itu diciptakan waktu Jerusalem direbut oleh panglima Roma, Pompeius dalam tahun 63 seb. Mas. Aslinya ditulis dalam bahasa Hibrani tapi lengkap hanya terpelihara dalam terjemahan Junani. Lagu-lagu itu berasal dari kalangan kaum Parisi dan bermaksud menjelaskan apa sebabnya maka Israel ditimpa bencana sebesar itu. Memang Israel berdosa. Namun demikian dimasa depan umat akan dipulihkan. Pemulihan akan diadakan oleh raja masehi. Radja itu adalah keturunan Dawud dan akan memerintahkan segala bangsa, Jahudi dan kafir. Ia akan mendapat kemenangan politik dan rohani.

Mazmur-mazmur ini ada kepentingannya oleh karena memperkenalkan harapan manakah ada dikalangan tertentu dimasa Kristus lahir. Namun demikian harapan itu bukan harapan semua orang Jahudi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s