Belajar dengan Hati Nurani — Sophia Lyon Fahs

Standar
Sophia Lyon FahsSophia Lyon Fahs

 

oleh Polly Peterson

“Mama, Mama, kapan kita sampai di tujuan?” tanya Sophia kecil. Bersama dengan keluarganya, ia melintasi luasnya Samudera Pasifik di atas sebuah kapal besar yang berlayar ke Amerika. Sophia Lyon, si gadis Amerika yang saat itu berumur tiga setengah tahun, menempuh perjalanan ke Amerika untuk pertama kalinya. Ia dan kakak-kakaknya lahir di China, tempat yang di situlah ayah mereka menjadi pendeta Kristen evangelis dan ibu mereka menjadi pendiri sebuah sekolah untuk anak-anak perempuan China.

Ketika mereka menempuh perjalanan panjang ke Amerika pada tahun 1880 itu, kedua orangtua Sophia berpikiran bahwa keluarga mereka akan kembali ke China setelah satu tahun. Namun rencana ini berubah, dan Sophia tak pernah kembali ke China. Ketika ia sudah besar, ingatannya tentang China sangat sedikit. Namun ia berharap bahwa bila ia sudah dewasa, ia bisa pergi ke negeri-negeri lain sebagai seorang guru Kristen, seperti kedua orangtuanya.

Di perguruan tinggi, Sophia bergabung dengan sebuah klub orang-orang muda yang juga ingin menjadi guru Kristen. Ia bertemu dengan seorang sukarelawan lain yang bernama Harvey Fahs. Mereka mulai menulis surat satu sama lain, dan membuat rencana untuk melakukan perjalanan dan mengajar bersama-sama. Enam tahun kemudian, mereka menikah. Namun bukannya pergi ke negeri lain, Sophia dan Harvey berpindah ke New Yor City. Harvey mendapatkan pekerjaan, sedangkan Sophia Lyon Fahs mengajar sekolah Minggu dan meneruskan studinya dengan bergairah lantaran pandangan-pandangan baru yang dia pelajari.

Anak pertama Sophia dan Harvey lahir pada tahun 1904. Pada masa itu, banyak wanita melepas pekerjaan di luar rumah mereka sesudah mereka menjadi ibu. Namun Sophia diminta untuk terus belajar dan mengajar sekolah Minggu, dan ia pun melakukannya. Dalam keadaan ini, menjadi ibu itu pun merupakan media belajar! Ia belajar mengenai anak-anak dari kebersamaan dengan anak-anaknya sendiri dan menyimak pertanyaan dan pandangan mereka.

(Anda bisa berhenti sejenak di sini dan meminta tanggapan anak-anak mengenai bagaimana anak-anak dapat mengajar orang dewasa.)

Ketika anak-anaknya mengajukan pertanyaan, Sophia berusaha menjawabnya sebaik-baiknya. Anak-anaknya suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menarik, seperti “Dari manakah salju berasal?” dan “Di manakah kita sebelum kita lahir?” Saat berusaha menjawab pertanyaan anak-anaknya, Sophia menjadi sadar betapa banyak yang tidak dia ketahui! Mungkin Anda menyangka bahwa ketidaktahuannya itu melunturkan iman Sophia, tetapi sebaliknyalah yang terjadi. Ia mulai yakin bahwa untuk memiliki iman yang kuat, menjumpai pertanyaan-pertanyaan yang Anda perhatikan sungguh-sungguh itu sama pentingnya dengan mendapatkan jawaban-jawaban.

Suatu hari, ketika Sophia mengajar pendidikan agama di kelas, ia menceritakan kisah nyata mengenai seorang guru Kristen di sebuah negeri lain. Murid-murid ingin sekali mendengar kisah tersebut dan membicarakannya. Seperti anak-anaknya sendiri di rumah, murid-murid mengajukan pertanyaan-pertanyaan — jenis pertanyaan menarik yang memungkinkan Sophia tahu bagaimana mereka berpikir dan belajar.

From Long Ago and Many Lands: Stories for Children Told AnewPandangan Sophia mengenai agama telah berubah dengan berlalunya waktu. Sewaktu muda, ia diajar bahwa Kekristenan merupakan satu-satunya agama yang benar dan orang-orang di seluruh dunia seharusnya mempelajari kisah-kisah dalam Alkitab. Namun Sophia kemudian menyadari bahwa Alkitab bukanlah satu-satunya buku yang mengandung kebenaran. Ia menghimpun kisah-kisah dari seluruh dunia, yang mengandung kebenaran dan keindahan untuk mendorong perkembangan spiritual anak-anak. Ia menerbitkan kisah-kisah tersebut dalam sejilid buku yang berjudul From Long Ago and Many Lands.

Pada masa itu, hampir semua orang dewasa berpikiran bahwa benak anak-anak itu seperti kendi kosong yang perlu diisi dengan pelajaran, tetapi Sophia berpikiran lain. Ia berpikiran bahwa anak-anak itu seperti taman yang telah ditanami dengan biji-biji yang memungkinkan mereka untuk tumbuh dan belajar. Ia berpikiran bahwa tugas guru adalah menyediakan tanah yang subur dan air secukupnya beserta sinar matahari yang dibutuhkan oleh taman tersebut untuk tumbuh. Di sekolah agama, guru itu dapat membantu anak-anak untuk menumbuhkan keimanan dan spirit mereka.

(Pertanyaan: Apa yang menurut Anda dapat membantu anak menumbuhkan spiritnya? Apa yang seharusnya diajarkan oleh sekolah agama untuk membantu Anda tumbuh?

Saran: Untuk murid, guru dapat menyediakan tempat yang aman untuk belajar beserta peralatannya, seperti buku dan alat peraga. Kami dapat menunjukkan kepada Anda bagaimana orang-orang dewasa beribadah, menyanyikan [lagu religius], dan merayakan [hari raya] bersama-sama dalam keimanan. Kami bisa membantu Anda mengetahui perbuatan-perbuatan yang religius demi kebaikan dan keadilan. Kami dapat membawa anda mengikuti kunjungan di lapangan (field trip) dan menceritakan kisah-kisah kepada Anda. Namun, tak seorang pun bisa memberi Anda kebijaksanaan atau keimanan atau perkembangan spiritual. Ketiga hal ini hanya bisa tumbuh dari dalam Anda sendiri. Anda belajar dengan mengalami dunia Anda sendiri — dengan merasakan perasaan Anda sendiri, dan dengan menyaksikan dan melakukannya [sendiri]. Begitulah yang diyakini oleh Sophia Fahs.)

Melihat tulisan Sophia mengenai keyakinannya itu, presiden American Unitarian Association terkesan. Ia mempersilakan dia untuk berbicara dengan guru-guru agama Unitarian. Guru-guru sekolah Minggu Unitarian sangat menyukai pandangannya. Dan itulah sebabnya, bila Anda datang kemari [yakni ke komunitas Universalisme Tauhid], kami dorong Anda untuk menyaksikan sendiri dan… mengajukan banyak pertanyaan.

Menginjak umur 82 tahun, Sophia menjadi “pendeta” (pemuka agama) Unitarian. Kehidupannya sendiri merupakan teladan yang hebat mengenai keyakinannya bahwa setiap orang di dalam komunitas religius seharusnya terus-menerus belajar dan berkembang, dari anak terkecil hingga orang tertua. Sophia Fahs berumur panjang — 102 tahun — dan ia tidak pernah berhenti mempelajari hal-hal baru.

Seandainya ia hidup hari ini dan datang mengunjungi kita, Sophia mungkin ingin tahu mengenai pengalaman [religius] kita seperti yang tersaji di [program] Faithful Journeys, dan bagaimana [program] tersebut telah mendorong kita untuk belajar dan berkembang. Ia mungkin ingin tahu kisah-kisah apa yang telah kita baca dan bagaimana kisah-kisah tersebut turut membangkitkan spirit kita. Ia mungkin ingin tahu bagaimana kita mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, dan belajar satu sama lain. Bayangkanlah betapa bahagianya dia menyaksikan kita saling mengairi biji-biji perkembangan spiritual kita di [program] Faithful Journeys sekarang.

————
Tulisan di atas merupakan terjemahan dari Polly Peterson, “Learning By Heart — Sophia Lyon Fahs“. Penerjemah: M Shodiq Mustika.

karena nafsu setanku, anjinglah tempat pelampiasan nafsuku

Standar

Ayah Steven adalah seorang yang keras dan kasar kepada anaknya. Apapun yang Steven lakukan, kalau ia berbuat salah, ayahnya tidak akan segan-segan untuk memukulnya. Hal itu menimbulkan dendam yang sangat dalam di hati Steven. Steven benar-benar benci kepada ayahnya.

Hati Steven pedih dan penuh dengan luka akibat perbuatan ayahnya. Bagi Steven, narkoba adalah jawaban atas segala kebencian dan kepedihan terhadap ayahnya. Karena keinginan hatinya untuk menyenangkan dirinya begitu besar, Steven pun mulai terikat dengan narkoba. Sang ibu, Henny, sempat menemukan obat-obatan miliknya. Henny tidak pernah mengetahui bentuk narkoba itu seperti apa. Barang haram itu pun hanya disangka vitamin oleh Henny.

Ketidaktahuan sang ibu membuat Steven semakin berani. Perilakunya semakin tidak terkontrol. Steven mulai berkhayal dengan fantasi-fantasi liarnya akibat mengkonsumsi narkoba. Fantasi porno pun kerap kali menguasai pikiran Steven. Dan nafsu itu dilampiaskannya dengan cara onani ataupun berhubungan seks dengan anjing piaraannya.

Narkoba yang dipikirnya bisa memberikan kesenangan dalam hidupnya, malah membuat Steven menuju ke ambang kehancuran. Saat memakai narkoba Steven memang merasa hatinya tenang dan dirinya adalah seorang yang lebih hebat daripada yang lain. Sewaktu masih bersekolah di STM, Steven adalah siswa yang suka tawuran. Dia adalah kepala geng bagi anak-anak di sekolahnya.

Jiwanya telah rusak. Akal sehatnya telah hilang akibat narkoba. Anjing piaraanya pun menjadi tempat pelampiasan nafsu birahinya selama 4 bulan. Tak seorang pun yang mengetahui perbuatannya yang sangat kotor dan hina itu.

Pada suatu ketika, anjing piaraan Steven hamil. Steven ketakutan setengah mati, dia takut kalau anak anjing itu adalah hasil hubungannya dengan anjing piaraannya. Dalam kepanikannya, Steven menendang dan memukul anjingnya sampai mati.

Hidup Steven telah hancur gara-gara narkoba. Bagi sang ibu, hanya doa yang bisa dilakukan untuk kesembuhan anak tercintanya. Henny senantiasa berdoa dan bergumul khusus untuk Steven.

Dalam keheningan malam, di saat Steven sedang tertidur pulas, peristiwa yang sangat menakutkan terjadi padanya. Steven bermimpi aneh. Ia sedang memasuki sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu Steven melihat ibu dan adiknya sedang menangisi seseorang yang terbaring di tempat tidur. Ketika Steven mendekati tempat tidur itu, ia melihat sosok dirinya sendiri yang terbaring tak berdaya akibat over dosis. Mimpi aneh itu menimbulkan pertanyaan yang besar bagi Steven. Ketakutan yang sangat menguasai diri Steven. Dalam ketakutan itu, Steven pun teringat untuk berteriak, “Tuhan Yesus, tolong saya!!” Kemudian Steven pun terbangun. Steven mulai berpikir kembali tentang hidupnya. Steven benar-benar ingin lepas dari segala keterikatannya tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk lepas dari hal itu. Sejak saat itu Steven betekad untuk mulai berhenti total dari segala kebiasaan buruk yang telah mengikatnya selama ini.

Saat mencoba berhenti dari narkoba, Steven harus merasakan seluruh badannya yang sakit, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Steven merasakan tulang-tulangnya yang seperti ditarik-tarik, luar biasa sakitnya. Dengan tekad yang kuat, Steven berjuang untuk lepas dari kebiasaannya itu. Hampir tiga bulan lamanya Steven mengambil puasa secara rutin. Setiap jam 3 pagi Steven terbangun tapi sakit yang dirasakannya tetap terasa. Dengan tekad yang kuat, Steven tetap bertahan untuk menahan rasa sakit yang dialaminya itu. Steven pun hanya bisa pasrah. Kalaupun memang dia harus mati, itu tidak menjadi masalah lagi. Bagi Steven, saat itu adalah saat dimana ia harus menuai apa yang telah ditaburnya selama ini.

Dalam sebuah ibadah, Steven menemani Henny, sang ibu yang tengah berbicara di tengah orang banyak. Saat itu Henny menjadi pembicara sedangkan Steven menjadi pemain gitarnya. Steven tidak menyangka bahwa ibunya akan mengucapkan kata-kata yang sangat menusuk hatinya. Dengan jelas Steven mengingat setiap perkataan ibunya, “Saya berdoa untuk anak saya. Saya bersyukur, doa saya dijawab Tuhan. Saat ini anak saya, Steven, sudah bisa melayani Tuhan.”

Steven baru menyadari kalau selama ini Henny selalu berdoa bagi dirinya. Steven tidak pernah tahu selama empat tahun ini, Henny tidak pernah berhenti mendoakan Steven. Hari itu menjadi hari yang merubah sejarah hidup Steven.

“Tuhan terima kasih, ada orang tua yang berdoa meskipun sudah saya kibulin, namanya tercemar karena saya, dan mami bilang anak saya seorang pecandu. Saat itu mami buka semua aib saya. Tapi mami tidak malu. Dia tetap menghargai saya sebagai anaknya,” ucap Steven mengungkapkan kekagumannya akan sosok Henny, ibunya.

Steven akhirnya terlepas dari narkoba dan dari semua kebiasaan buruk yang telah membelenggu hidupnya. Bahkan hubungannya dengan sang ayah pun telah dipulihkan. Ayah Steven mulai dipulihkan saat ia menyaksikan sendiri bagaimana Steven masuk di dalam pelayanan.

Saat ini Steven tergabung dalam organisasi anak muda yang memerangi kecanduan narkoba dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan di sekolah-sekolah.

“Saya berterima kasih sama Tuhan. Karena kalau Steven tidak berubah, mungkin kita tidak bisa mengubah hidup orang lain. Saya juga terjun di pelayanan sebenarnya karena diajak Steven,” kisah Efraim, adik Steven.

“Tidak ada orang yang mengatakan sedemikian luar biasa kepada saya selain Yesus ketika Dia mengatakan, ‘Steven, Aku cinta kamu.’ Itu sudah cukup bagi saya. Saya tahu bawa Dia mencintai saya,” ujar Steven penuh haru sambil menutup kesaksiannya. (Kisah ini sudah ditayangkan 17 Desember 2007 dalam acara Solusi di SCTV).

Sumber :
Jawaban.com
Sumber Kesaksian :
Steven Imanuel Bawole

Susah mengampuni istri, aku selingkuh meski aku hamba Tuhan

Standar

Berawal dari teman yang menceritakan bahwa dia melihat Evert di mall bersama wanita lain, membuat istri Evertlandus curiga. Dia mencoba memeriksa handphone Evert yang tidak pernah dihapus SMS-nya. Kecurigaan ini diperkuat dengan salah satu SMS yang mengungkapkan kata ‘sayang’ dari suami Debby, Evertlandus.
“Akhirnya saya tanya sama suami saya. Saya sebut nama cewek ini (yang ada di handphone tersebut).” kisah Debby, istri Evert. Lalu Evertlandus menceritakan bahwa cewek ini cuma curhat dan tidak ada apa-apa di antara mereka. Untuk membuktikannya, Evert menelepon si cewek di depan istrinya.

“Istri saya marah-marah dengan wanita itu. Saya kemudian bilang kepada wanita itu kalau kami tidak bisa berhubungan lagi.” kisah Evertlandus kemudian. “Tetap aja. Saya kayaknya nggak percaya. Saya pikir suami saya ini pasti selingkuh. Oh, liat aja. Kalau lu bisa, saya juga bisa. Itu yang tertanam di pikiran saya.” timpal Debby kemudian.

Kecemburuan itu sudah membutakan mata hati istrinya. Demi membalas Evert, sebuah tindakan konyol pun dilakukan sang istri. “Ya, tadinya memang urusannya itu cuma urusan pekerjaan. Karena sering bersama, ya ga tahu kenapa, kenapa saya bisa gitu ya, saya tertarik sama cowok itu dan akhirnya melakukan hubungan yang terlarang.” tutur Debby kemudian.

Di lain sisi, Evert pun curiga kepada istrinya. Istrinya yang tidak pernah membuatkan teh maupun menyediakan roti untuknya, mau menyediakan teh dan roti untuk laki-laki tersebut. Sang istri pun pandai menutupi perselingkuhannya. Ajakan Evert dan temannya untuk ikut ke Bandung tidak digubrisnya. Dia malah bersenang-senang dengan pria selingkuhannya.

Ketika Evert sudah pulang dari Bandung, Evert semakin merasa curiga. Pasalnya adalah ketika dia menggedor pintu rumah yang terkunci, lama tidak ada yang membuka. Akhirnya agak lama baru Debby membuka pintu. Mengingat peristiwa itu, Debby masih ingat rasa takut ketahuan oleh suaminya karena perselingkuhan yang dia lakukan.

Saat itu Debby menjelaskan bahwa dia habis mandi, dan sekarang laki-laki yang membantunya beres-beres rumah orangtuanya lagi mandi. Di situlah Evert mulai berpikir, “Wah, sudah terjadi ini.” Evert saat itu menahan dirinya dan mengatakan bahwa mereka sedang ada masalah rumah tangga dan meminta laki-laki itu untuk tidak datang dulu ke rumah mereka. Evert takut dia bisa membunuh laki-laki tersebut.

Kebusukan itu akhirnya Evert bongkar di depan keluarga sang istri. Belum puas sampai di situ, Evert melakukan tindakan gila lainnya. Dia menginterogasi istrinya dan menanyakan berapa kali mereka melakukan hubungan terlarang itu. Istrinya mengatakan bahwa sudah tiga kali mereka berhubungan intim, tapi Evert tidak percaya. Meskipun tembok yang dipukul oleh Evert, namun istrinya menangis juga. Evert kemudian menyuruh istrinya agar menelepon laki-laki selingkuhannya tersebut, kalau tidak dia akan mati malam ini.

Malam itu juga, Debby menelepon dan meminta laki-laki selingkuhannya untuk datang karena ada suatu urusan yang ingin dibicarakan. Saat itu juga, Debby mengakui kesalahannya dan dia tidak mau mengulanginya lagi. Debby ingin agar semuanya berjalan lancar dan suaminya tidak marah-marah lagi, namun ditolak mentah-mentah oleh Evert.

Akhirnya laki-laki itu datang, Evert mengunci pintu rumahnya. Pertama-tama, dia bilang bahwa laki-laki itu seperti pagar makan tanaman. Dia juga menanyakan berapa kali mereka berhubungan intim. Ketika dijawab tiga kali, Evert tidak percaya. Laki-laki itu dipukul olehnya. Pukulan itu membuatnya tangannya sakit, sehingga dia pun menggunakan kaki dan lutut untuk menghajar perut laki-laki tersebut.

“Saya rencana mau bunuh dia sih, saya mau hajar pakai besi. Akhirnya, saya telepon adik saya itu. ‘Eh, lu mau liat ga nih, laki-laki yang tiduri bini gua…’ Adik saya suruh saya tahan di situ. Tak lama kemudian kakak saya telepon. ‘Siapa tuh, kunci dia di kamar, biar kita kuliti dia, kita potong-potong dia’. Kalau saya lepasin dia ke tangan kakak dan adik saya, matilah dia.”

Namun, ketika adik dan kakaknya datang, dia tidak membiarkan mereka masuk. Evert menyuruh agar lelaki itu tetap di dalam rumah dan tidak keluar rumah. Setelah itu, Avert meminta nomor telepon keluarga si laki-laki selingkuhan istrinya, namun dia tidak mau memberikannya. Alasannya, ”Bang, jangan. Ayah saya lagi sakit, nanti kalau dia denger yang begini dia bisa mati.”

“Aku tidak mau tau, kasih ga nomor keluarga lu…” tanya Evert kepada laki-laki itu.

Saat itulah adik Evert masuk. “Adik saya ke dapur dan mengambil pisau. Terus dia disamperin..” Dia menyorongkan pisau itu ke laki-laki tersebut dan meminta nomor telepon yang diminta. “Dari tadi kenapa…” katanya setelah memukul kepala laki-laki dengan menggunakan helm.

Akhirnya Evert menelepon keluarga laki-laki itu. Meskipun tidak bisa menghubungi ayahnya, akhirnya Evert berbicara dengan kakak perempuannya. Mereka datang ke rumah Evert. Evert juga memanggil RT setempat dan meminta laki-laki tersebut untuk tidak datang di sekitar rumah / RT tempat mereka tinggal. Perjanjian ini dibuat hitam di atas putih, jadi kalau masih berhubungan, Evert akan lapor polisi.

Setelah semuanya selesai, mereka pun pulang ke rumah. “Saya sudah tidak mikirin malu, saat itu sudah tidak ada malu di hati saya terhadap kondisi ini.” Sebaliknya, Debby sangat merasa malu atas kejadian tersebut.

Kejadian tersebut membuat Debby memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. “Karena saya pikir, buat apa lagi saya pertahankan? Kan, saya sudah ketahuan selingkuh, saya sudah tidur dengan laki-laki lain.” Namun lain dengan yang ada di pikiran Evertlandus.

“Buat saya, tidak ada kata perceraian, semua masalah kita selesaikan bersama. Bahwa pernikahan saya buat sekali seumur hidup.” Perkataan Evert seperti itu, membuat istrinya begitu menyesal dan sedih sekali. Kenapa ya saya melakukan hal seperti itu, begitu kata hati Debby.

Memang Evert bisa menerima kejadian ini, namun tetap ada yang tersisa di hatinya. Hal ini membuat Debby ingin menjauh sebentar dan kembali ke rumah orangtuanya. Evert marah-marah, semua barang Debby dikeluarkan dan Debby disuruh pergi dari sana. Debby yang duduk di bawah lantai, hanya bisa menangis menerima lemparan barang-barang dari suaminya.

“Saya merasa puas kalau melihat dia menangis, saya puas kalau bisa menyakiti dia. Saya ingin dia merasakan sakit seperti saya. Saya memang tidak pernah pukul dia, kalau saya kesel banget, saya pukul tembok.” itulah perasaan Evert saat itu. Susah bagi Evert untuk menghapus luka batin yang dideritanya.

Evert mencoba berbagai cara. Ketika di tempat tidur, Evert memeluk istrinya, tapi ada perasaan tidak nyaman. “Tapi saya merasa jijik aja gitu, saya merasa kok bekas orang ya? Terkadang juga terbayang di pikiran saya bahwa dia tidur dengan laki-laki lain. Saya kok bisa seperti ini ya? Saya komplain dengan Tuhan.”

Selama 1 tahun itu Evert menyimpan rasa sakit di hatinya, meskipun sebagai seorang hamba Tuhan, susah baginya untuk mengampuni perselingkuhan sang istri. Apalagi ketika dia sedang mempersiapkan materi tentang pengampunan, terjadi pertentangan dalam batinnya. Dia sampai-sampai membenturkan kepalanya.

Kemudian ada suara dalam hatinya. “Saya tidak tuntut kamu sempurna kok…Kamu mau naik kelas.” Meskipun sangat menyadari hal itu, tapi Avert tetap saja menderita. “Iya, saya sakit lho. Saya nggak kuat menahan. Tuhan, saya bisa gila nih. Lebih baik saya mati aja deh. Saya berharap kepala saya pecah.”

Dengan segala keputusasaan, Evert tetap pergi ke acara tersebut. Di atas sepeda motor yang setia membawanya ke tempat tujuan, Evert terus bicara dengan Tuhan tentang apa yang harus dia khotbahkan. Dia meminta bisa mengampuni istrinya, agar tidak ada rasa sakit.

”Jadi, ketika saya berkhotbah, Tuhan mengingatkan jika ada orang yang menyakitinya, ampunilah dia, doakanlah dia, berkati dia, Tuhan ingatkan yang lebih mengena kepada saya adalah jika engkau memberikan persembahan kepada-Ku tapi punya masalah dengan saudaramu. Pulanglah, bereskan masalah itu terlebih dahulu.”

Selesai ibadah, Evert menemui sang istri. Evert berdoa dan mengatakan kepada istrinya bahwa dia mengampuni istrinya. Sejak saat itu, damai sejahtera ada pada keluarga mereka. Rumah tangga mereka dipulihkan. (Kisah ini ditayangkan pada acara Solusi Life di O Chanel tanggal 11 Agustus 2010)

Sumber Kesaksian :

Evertlandus dan Debby (jawaban.com

kisah nyata kekuatan cinta sejati

Standar

Saat Dwi berniat memperkenalkan Bethania kepada kedua orang tuanya, dengan tegas ibu Dwi menolak hubungan cinta yang telah terjalin di antara mereka. Di mata ibunda Dwi, Bethania bukanlah calon yang pantas untuk Dwi, anaknya. Dwi yang saat itu sedang mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan akan menjadi seorang pilot dengan masa depan yang cemerlang. Sedangkan Bethania sendiri bukan berasal dari keluarga yang terhormat. Apalagi mereka berbeda suku. Namun penolakan keluarga Dwi tidak membuat Bethania mundur. Ia tetap setia kepada Dwi dan berusaha mempertahankan hubungan mereka dengan sebaik-baiknya.

Dwi sendiri, meskipun ditentang oleh keluarganya, tetap mempertahankan hubungan cintanya dengan Bethania. Dalam kesehariannya, pikiran Dwi dipenuhi dengan impiannya untuk menjadi seorang pilot. Dwi bahkan berjanji kepada Bethania akan mengajaknya terbang tinggi ke angkasa suatu hari nanti.

Demi menepati janjinya, Dwi terus mengasah kemampuannya. Namun di pagi itu, tanggal 28 Januari 1997, saat Dwi seperti biasa menjalani latihan penerbangannya, alam berkata lain. Tiba-tiba, akibat kabut yang sangat tebal, pesawat yang ditumpangi Dwi menabrak Gunung Gede. Seluruh badan pesawat itu hancur dan terbakar. Tim evakuasi baru tiba di lokasi kejadian pukul 2 siang. Tubuh Dwi ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Pagi itu, sebelum terbang, Dwi mengabari Bethania mengenai rencana penerbangannya hari itu dan berjanji akan segera memberi kabar kepada Bethania kalau ia sudah mendarat. Namun sampai jam 10 pagi, kabar dari Dwi tak kunjung datang. Hati Bethania menjadi tidak tenang karena seharusnya Dwi tiba di tujuan sejak jam 8 pagi tadi. Telpon pun akhirnya berdering. Dan berita kecelakaan itu pun sampai di telinga Bethania.

Keluarga Dwi sama sekali tidak mau memberikan informasi kepada Bethania mengenai keadaan Dwi. Tak sanggup menahan rasa kuatirnya, empat hari setelah kecelakaan Bethania mendatangi rumah sakit tempat Dwi dirawat. Bukannya informasi yang di dapatnya, melainkan penolakan demi penolakan dari keluarga Dwi harus dihadapi Bethania. Makian demi makian dilontarkan kepada Bethania karena ia dianggap hanya membawa sial bagi kehidupan Dwi dan Bethania tidak diijinkan sama sekali untuk mendekati Dwi. Tidak cukup sampai di situ, Bethania pun sempat diludahi oleh salah satu anggota keluarga Dwi.

Dalam kesedihan yang mendalam, Bethania pergi ke kapel rumah sakit dan berdoa. Bethania berdoa memohon supaya Tuhan tidak mengambil nyawa Dwi. Bahkan Bethania bernazar, kalau memang Tuhan mengijinkan Dwi hidup, Bethania berjanji di hadapan Tuhan, apapun yang akan terjadi, Bethania akan setia mendampingi Dwi sampai selama-lamanya. Begitu Bethania selesai mengucapkan janji itu, di saat yang bersamaan Dwi mulai siuman. Dan pada saat Dwi siuman, tanpa Dwi sadari ia memanggil nama Bethania, kekasihnya. Namun Bethania tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depannya.

Untuk kesekian kalinya cinta Bethania dan Dwi diterpa cobaan. Namun cobaan yang terbesar baru akan terjadi. Keluarga Dwi pun pada akhirnya mengijinkan Bethania untuk bertemu dengan Dwi. Namun Bethania tidak dapat mengenali wajah Dwi lagi. Luka bakar yang diderita Dwi akibat kecelakaan itu sangat parah. Dwi sendiri frustasi saat mengetahui kondisi fisiknya yang sudah tidak berbentuk lagi. Secara fisik kepalanya botak, jari-jari tangannya cacat dan dari pinggang ke atas tubuh Dwi sudah cacat.

Secara psikologis, Dwi merasakan penderitaan yang besar karena tiga bulan lagi ia seharusnya sudah dapat diwisuda dari sekolah penerbangan tersebut. Di rumah sakit, Dwi dikenal sebagai pasien yang paling galak. Dwi sering memaki-maki para suster dan dokter sebagai konpensasi dari kekecewaannya terhadap kondisi fisiknya yang cacat. Hatinya sangat hancur dengan kejadian ini. Cita-citanya dan harapannya untuk berprofesi sebagai pilot pupus sudah.

Dwi sempat mau mengakhiri hidupnya karena tidak dapat menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya mengapa semua ini harus menimpa dirinya. Dwi menjadi orang yang minder karena semua orang memandangnya dengan pandangan yang aneh. Namun Bethania tetap menguatkan Dwi dan berjanji untuk senantiasa mendampinginya. Cinta Bethania lah yang menjadi kekuatan bagi Dwi. Harapan Dwi mulai tumbuh setelah Dwi menjalani 15 kali operasi rekonstruksi. Namun sebuah kabar merusak segalanya.

Perawatan Dwi membutuhkan biaya yang sangat besar. Dan pemerintah menghentikan bantuan biaya yang selama ini telah diberikan untuk perawatan Dwi. Bethania sendiri mendengar selentingan kabar bahwa orang tua Dwi akan mengasingkan Dwi, mengisolasinya ke daerah terpencil. Bethania sangat tidak rela Dwi diperlakukan seperti itu.

Dengan tekad bulat dan penuh keberanian, Bethania mendatangi orang tuanya dan menyampaikan maksudnya untuk menikah dengan Dwi. Tentu saja orang tua Bethania menolak dengan keras keinginan Bethania ini. Tapi Bethania tetap bersikeras ingin menikahi Dwi karena Bethania tidak rela kalau sampai Dwi dibawa ke daerah pedalaman oleh keluarganya. Pada akhirnya, Bethania memberanikan diri mendatangi orang tua Dwi dan pada saaat itulah, Bethania melamar Dwi.

Akhirnya, setelah melalui 25 kali operasi rekonstruksi dan dirawat di rumah sakit selama 1,5 tahun, tanggal 17 Juli 1999, Bethania dan Dwi dipersatukan dalam pernikahan kudus.

“Rasa percaya diri yang mulai muncul itu tidak seketika. Kepercayaan diri itu mulai bertumbuh empat tahun setelah kecelakaan. Itu bukan suatu hal yang singkat. Saya yakin dan percaya bahwa Ibeth (panggilan Bethania), yang sekarang sudah menjadi istri saya, dia adalah seorang penolong yang Tuhan hadirkan di dalam hidup saya. Mungkin kalau tidak ada Ibeth yang Tuhan kirimkan di dalam hidup saya, saya bisa jadi orang gila saat ini atau mungkin saya sudah bunuh diri atau mungkin juga saya akan menjadi orang yang memiliki sifat dan karakter tidak seperti sekarang,” aku Dwi dalam kesaksiannya mengenai Bethania, istrinya.

“Dulu saya bercita-cita untuk menjadi seorang pilot yang membawa penumpang dari satu kota ke kota lainnya. Tetapi lewat proses kecelakaan, melalui apa yang saya alami ternyata Tuhan membuat saya menjadi seorang pilot, bukan pilot dunia, tetapi pilotnya Tuhan, karena pada saat saya mengambil bagian dalam pelayanan banyak jiwa dikuatkan, banyak jiwa yang telah jauh dari Tuhan bisa kembali kepada Tuhan. Dari gelap kepada terang, dari neraka menuju ke Surga,” ujar Dwi menutup kesaksiannya.

Kini Bethania dan Dwi melayani orang yang sedang mengalami keterpurukan seperti Dwi. Lewat kisah mereka, mereka mau membuktikan bahwa hanya kasih Yesus saja yang sanggup mempersatukan mereka. Sebuah kasih tanpa syarat. (Kisah ini ditayangkan 9 April 2009 dalam acara Solusi Life i O’Channel).

Sumber Kesaksian :
Dwi Krismawan
Sumber Artikel :
Jawaban.com

kisah nyata bintang film porno yang bertobat

Standar
film pornoshelley lubben

Saya lahir tahun 1968, dan tumbuh di California selatan. Saya adalah yang tertua daritiga bersaudara, seorang anak berkemauan keras dengan kepribadian yang “bersemangat”. 8 tahun pertama dalam hidup saya, keluarga saya menghadiri gereja yang baik di mana saya belajar tentang Tuhan dan Yesus.

Sebagai seorang gadis kecil, saya mengenal dan sangat mengasihi Yesus. Ketika saya berumur 9 tahun, banyak hal berubah di dalam keluarga kami. Kami pindah ke Glendora, meninggalkan gereja dan sahabat-sahabat yang kami kenal dan cintai. Kedua orang tua saya berhenti menghadiri gereja, dan perlahan-lahan keluarga kami terseret menjauh dari Tuhan dan dari satu sama lain.

Saya tumbuh tanpa hubungan yang berarti dan intim dengan kedua orang tua saya, meskipun mereka bukan orang tua yang jahat. Banyak dari waktu dalam keluarga kami, kami habiskan duduk di depan televisi. Keluarga kami SANGAT SUKA menonton televisi. Saya masih ingat kebanyakan episode dari televisi tahun 70 dan 80an. The Love Boat, Three’s Company, Star Trek,Twilight Zone, Chips, I love Lucy (favorit kami), The Munsters, Carol Burnett show,Gilligan’s Island, Bewitched, Bonanza, dan Happy Days. Singkatnya, saya dibesarkan oleh televisi dan mulai mengembangkan cara berpikir yang salah dan berbahaya.

Ibu saya sering berkata bahwa, televisi adalah sebuah pengasuh bayi yang hebat. Saat bertumbuh, saya berbeda dari anak-anak lain. Saya benar-benar kreatif, dan pada usia yang sangat muda saya sudah mulai menulis puisi dan cerita pendek. Waktu itu saya sangat frustrasi karena saya tidak memiliki tempat untuk mengarahkan energi kreatif saya. Orang tua saya tidak mendaftarkan saya ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, dan dalam kebanyakan waktu saya, saya merasa sangat bosan. Pada umur 6 tahun, saya menulis, menyutradarai, dan “membintangi” drama sekolah saya.

Guru kelas satu saya melihat kreativitas dalam diri saya. Dia memberitahu ibu saya bahwa dia terkagum-kagum dengan bakat saya, dan dia tidak sabar melihat saya di usia saya yang ke-30. Diapercaya saya bisa menjadi artis Hollywood atau produser film. Saya ingat juga waktu itu saya seorang yang aneh, karena saya mulai masturbasi dan memiliki tendensi seksual pada usia yang sangat muda. Mata saya dibukakan terhadap seksualitas oleh seorang gadis remaja dan saudara laki-lakinya ketika umur saya 9 tahun, dan mulai saat itu mengalami perlakuan seksual dengan perempuan dan laki-laki sebelum saya berumur 18 tahun.

Seks menjadi sesuatu yang membingungkan untuk saya. Seks berarti “cinta” untuk saya karena enak rasanya, merasa dibutuhkan dan diingini oleh orang lain dan menerima perhatian, tapi pada saat yang sama saya merasa kotor. Saya tidak sadar pada saat itu, sebagai seorang anak kecil, saya sedang diperkosa secara seksual. Sebagai seorang remaja, saya mencari cinta dari laki-laki dan alkohol, dan mulai berhubungan seks di usia 16 tahun.

Usia remaja saya dipenuhi dengan teriakan-teriakan dan pertengkaran yang konstan dengan kedua orang tua saya. Saya punya seorang ibu yang marah pada saya sepanjang waktu, dan seorang ayah yang terlihat terlalu sibuk berteriak menegur saya karena sikap saya yang tidak sopan terhadap ibu saya, dibanding membangun hubungan ayah-anak yang berkualitas dengan saya.

Aku tidak ingat seorangpun mengatakan “aku mengasihimu” dalam tahun-tahun itu. Kedua orang tuaku tidaklah jahat, tapi aku merasa mereka tidak tertarik denganku, dan aku menjadi seorang remaja pemberontak yang bertingkah aneh untuk mendapat perhatian. Tapi bukannya mendapat perhatian mereka, orang tuaku malah memilih tinggal diam di rumah.

Begitu apatisnya mereka, saya diperbolehkan melakukan hal-hal seperti berpakaian kostum kelinci playboy pada usia 15 tahun. Saya diperbolehkan mengencani pria-pria yang mereka tidak kenali. Pada usia 15 tahun saya diperbolehkan pergi ke sebuah malam prom dengan seorang laki-laki berumur 18 tahun, yang akhirnya membuat saya mabuk untuk pertama kalinya.

Kejadian ini memulai gaya hidup berpesta untuk saya, dan saya memulai nongkrong di klub malam, menggunakan narkotika, di usia 16 tahun. Orangtua saya tahu saya punya masalah alkohol, tapi mereka tidak tahu apa yang harusmereka perbuat. Mereka mencoba konseling keluarga, tapi ayah terlalu “sibuk” bekerja dan hanya berhasil datang satu kali. Jadi saya pergi mencari keluarga baru dan menemukan “cinta” di kerumunan yang salah, minum alkohol dengan dosis yangteratur, dan mulai merokok ganja. Orang tuaku melalui kesedihan yang dalam karena tindakan-tindakanku, dan akhirnya – di batas kesabaran mereka – mengusir saya darirumah di usia saya yang ke-18.

Saya berakhir di San Fernando Valley tanpa uang dan makanan. Seorang pria “baik”melihat saya kesulitan dan mengatakan betapa dia mengasihani saya. Dia melingkarkan lengannya di sekeliling saya dan menawarkan bantuan. Tapi kemudian dia mengatakan pada saya dia mengenal seorang pria yang ingin berhubungan seks dengan saya danakan memberi saya uang. Saya masih sangat terkejut dan penuh kemarahan karena orang tua saya mengusir dari rumah, sehingga saya tidak peduli lagi dan menerima tawarannya. Saya menjual diri seharga 35 dollar dan hidup saya sebagai pelacur dimulai dari situ.

Tidak lama aku bertemu seorang ibu yang memperkenalkanku pada sisi “glamour” dari pelacuran. Dia mengajariku setiap trik pelacuran dan cara memanipulasi pria. Awalnya terlihat menarik dengan pria-pria memberiku uang, perhiasan, dan hadiah-hadiah, tapi tidak lama hidup saya terasa seperti perbudakan. Saya menemukan diri saya melakukan seks yang aneh dengan orang asing dan mulai membencinya. Pelanggan mulai melakukan hal-hal menyeramkan seperti menyobek kondom dengan sengaja atau mengikuti saya kemana-mana. Lainnya mencoba membunuh saya dan menabrak saya dengan truknya. Pria lain membawa pistol kapanpun ia bersama saya dan mengancamakan membunuh saya kalau saya tidak melayaninya dalam posisi-posisi seks tertentu.

Pria-pria menuntut dan terus meminta dari saya dan saya terus menerus mesti berbohong untuk keluar dari situasi-situasi yang menakutkan. Saya menjadi seorang pembohong professional dan dapat benar-benar berbohong untuk melicinkan jalan saya. Saya bahkan bisa berbohong pada polisi untuk keluar dari tuntutan mengemudi mabuk, dan beberapa pengalaman mengerikan lainnya. Ini adalah standar untuk industri seks dan alat meloloskan diri paling utama untuk setiap penari telanjang, pelacur, atau artisporno.

Gaya hidup dalam industri seks menjadi semakin buruk bagi saya dan saya merasa tidak ada jalan kemanapun untuk lari. Yesus terus mengetuk pintu hati saya tapi saya tidak menghiraukan-Nya. Saya berpikir, Tuhan tidak memelihara saya, jadi saya harus melakukan apa saja yang bisa saya lakukan untuk bertahan hidup sendiri. Siklus ganas sebagai seorang pelacur dan penari eksotik di California selatan bertahan selama delapan tahun. Selama bekerja sebagai pelacur, saya hamil tiga kali dari pelanggan dan hal itu menghancurkan saya. Jutaan pertanyaan muncul dalam pikiran saya setiap kali. Bagaimana saya membiarkan hal ini terjadi? Bagaimana saya akan merawat bayi ini? Haruskah saya aborsi? Kemana saya harus mencari bantuan? Saya bahkan tidak tahu siapa ayah-ayah dari dua kehamilan. Kemudian saya mengingat Yesus dan saya meminta-Nya, “Tolong saya”. Tuhan menghibur saya dan saya tahu saya tidak bisa membunuh dan akhirnya saya menjaga bayi saya. Dua dari kehamilan itu gugur karena tidak terawat, tapi salah satunya berhasil dan saya punya putri pertama saya, Tiffany, di usia saya yang ke-20. Tiffany memiliki darah Asia dan sangatlah cantik. Saya mencoba kembali untuk hanya melakukan tari eksotik, tapi pelacuran terus menghantui saya dan godaannya sulit untuk ditolak, apalagi untuk seorang orang tua tunggal.

Setelah beberapa tahun membesarkan anak seorang diri dan bekerja sebagai seorang pelacur dan penari, saya mulai minum alkohol secara berlebihan dan mulai bergantung pada alkohol dan narkotika. Tiffany tumbuh sebagai seorang gadis kecil yang sedih, dan kepolosannya terkadang dinodai. Ketika dia tumbuh semakin besar, dia sadar akan keberadaan pria-pria aneh yang “mengunjungi” saya dan memarahi saya. Saya memaksanya bersembunyi di kamarnya sementara saya “menghibur” pelanggan. Dia juga melihat saya dengan hubungan yang “aneh” dengan wanita-wanita. Dia tidak benar-benar mengerti semua itu, tapi jelas dia tahu bahwa dia hidup dengan seorang perempuan liar yang cabul. Ketika itu saya merupakan seorang ibu yang buruk, saya biasa memberinya pager dan menyuruhnya pergi ke taman sementara saya melacur. Umurnya baru empat tahun.

Saya mulai melihat diri saya sendiri sebagai sebuah kegagalan total. Saya kehilangan semua harga diri dan membenci diri saya sendiri sebagai seorang ibu yang buruk. Saya sangat lelah selalu mencoba untuk bertahan hidup. Tidak pernah ada istirahat dari gaya hidup itu. Pria-pria mengikuti saya pulang, menyayat ban mobil saya, menelepon saya setiap saat, datang mabuk di tengah malam, dan bahkan mencoba membunuh saya. Untuk bisa berfungsi, saya selalu bergantung pada sebotol besar Jack Daniels di tangan. Kadang saya akan duduk di sudut dengan botol saya dan dalam keadaan mabuk total menangis pada Yesus, “Saya mohon, tolong saya!”, tapi sepertinya Dia tidak ada disana. Entah mengapa saya selalu merasa ada “perlindungan” aneh di sekeliling saya. Seiring dengan perjalanan menyakitkan saya berlanjut, saya mulai terlibat dalam industri film porno. Saya pikir saya bisa mendapat uang yang mudah dan cepat, juga film porno terlihat lebih aman dan legal dibanding pelacuran. Banyak pelacur yang saya kenal diperkosa dan dikirim ke penjara, dan saya tidak mau hal itu terjadi pada saya. Juga dalam waktu itu, saya benar-benar seorang pecandu berat alkohol dan narkotika dan tidak mampu mengambil keputusan yang rasional.

Ketika saya membuat film porno saya yang pertama, sesuatu yang sangat “gelap”datang pada saya. Saya hampir bisa mendengar iblis berkata, “Lihat Shelley, aku akan membuat kamu terkenal dan KEMUDIAN semua orang akan mencintai kamu.” Sebuah kekuatan aneh yang sangat besar membuat saya mampu berhubungan seks dengan penuh semangat, hanya untuk kemudian ‘jatuh dari ketinggian’ dan hancur, merasa dipermalukan dan dilecehkan. Saya menyukai perhatiannya, tapi membenci diri sayasendiri dalam saat yang sama. Saya suka mendengar betapa hebatnya saya ‘tampil’, tapi saya juga benci seks yang begitu brutal. Saya mulai membintangi film-film seks yang lebih brutal, dan hanya dengan menggunakan lebih banyak alkohol dan narkotika sayaberhasil melakukannya. Saya merasa seperti saya harus membuktikan sesuatu pada dunia dan semua orang yang pernah menyakiti saya. Dan ketika industri pornografi membuka lengan besar mereka dan mengundang saya ke dalam sebuah “keluarga”, akhirnya saya merasa diterima. Tapi harga yang saya bayar untuk “keanggotaan”keluarga itu adalah hidup saya sendiri. Saya menjual apa yang tersisa dari hati, pikiran,dan femininitas saya pada industri pornografi, dan wanita dan sisi manusia dari saya mati sepenuhnya dalam studio pornografi.

Saya juga berisiko terinfeksi vírus AIDS seperti bintang porno lainnya. Saya bermain-main dan mempertaruhkan hidup saya dalam bahaya. Industri pornografi tidak danTIDAK AKAN PERNAH mendukung penggunaan kontrasepsi dalam film-filmnya, jadi penyakit menular seksual dan HIV sejak dulu masih merupakan resiko antara artis dan aktor film porno. Bulan Mei 2004, Lembaga Medis Industri Pornografi (Adult IndustryMedical Foundation – AIM), yang menawarkan tes sukarela bulanan untuk bintangporno bagi HIV, mengumumkan bahwa lima “aktor” pornografi telah diperiksa positifatas virus AIDS. Saya lebih beruntung dari aktor-aktor itu. Tuhan tidak mengijinkan HIV menjamah saya. Bagaimanapun, saya terjangkit herpes, penyakit menular seksuallainnya yang tidak dapat disembuhkan. Saya ingin bunuh diri. Waktu saya mendapat herpes, tidak ada yang menolong saya. Tapi sejak AIM terjun ke lapangan, organisasi ini mengklaim telah menurunkan beberapa penyebaran HIV di industri pornografi dan meningkatkan kewaspadaan di antara para pelaku film. Tapi kebenaran itu tetap tinggal, aktor porno terus membahayakan hidup mereka dan menyebarkan penyakir. Dalam sebuah wawancara dari Court TV dengan penemu AIM, Sharon Mitchell, juga seorang mantan artis porno, mengakui bahwa di antara aktor porno dewasa ini terdapat “7%HIV, dan 12-28% penyakit menular seksual. Herpes selalu berada di sekitar 66%.

Mereka diobati dengan acyclovir untuk herpes, yang sangat efektif untuk mencegah penularan herpes. Chlamydia dan gonorrhea, akan tetapi, seperti hepatitis, sepertinya menempel pada segala sesuatu mulai dari dildo ke permukaan rata sampai tangan, jadi biasanya kami sudah habis akal menangani Chlamydia.” Itu merupakan kata-katanya sendiri dan wawancaranya dapat ditemukan di http://www.courttv.com/talk/chat_transcripts/2001/0723mitchell.html

Tidak ada yang lebih menghancurkan dari menerima hasil positif untuk sebuahpenyakit menular seksual yang tidak dapat disembuhkan. Waktu itu aku ingin mengakhiri hidupku. Saya menelan banyak pil-pil berharap saya overdosis, dan mengiris pergelangan tangan saya, tapi tampaknya apapun yang saya lakukan, saya tidak bisa mati. Rasa sakit itu benar-benar membanjiri, dan suasana hati saya benar-benar tidak stabil. Satu menit saya berjalan seperti mayat hidup dan menit berikutnya saya marah besar, berteriak dan memecahkan barang-barang. Saya marah terhadap Tuhan, membenci diri saya sendiri dan orang tua saya. Hanya alkohol dan narkotika dapat meringankan rasa sakit saya.

Saya memanggil Yesus untuk menolong saya dan mencoba meninggalkan pola hidup saya yang berantakan, tapi tidak sampai seminggu saya sudah kembali lagi. Saya kehilangan semua harapan dan membenci hidup saya. Saya benar-benar tanpa harapan, dan hidup benar-benar tanpa arti. Setelah terinfeksi dengan herpes, perlahan-lahan saya meninggalkan industri pornografi tapi kembali melacur untuk tetap hidup.Tahun 1994 saya bertemu seorang pria bernama Garrett. Seorang pria berusia 22 tahundan begitu polos dibandingkan dengan saya. Saya memberitahunya ia harus membayaruntuk mengencani saya. Ia berpura-pura membutuhkan “pelayanan” saya untuk sebuah pesta bujangan jadi saya memberinya kartu nama. Ia sering menelpon saya tapi saya terus berkata tidak. Saya tidak mampu memulai hubungan normal karena hati saya benar-benar hitam dan dingin terhadap semua laki-laki.

Namun kemudian, karena alasan-alasan Tuhan, saya mengubah pikiranku dan pergi bersamanya. Dengan cepat kami menjadi sahabat. Ketika saya menghabiskan waktu bersama-sama, hati saya yang hitam dan terluka mulai bisa merasakan lagi. Saya ingat benar-benar merasakan rasa sakit secara fisik di hati saya ketika Garrett mencoba mendekati saya. (Lihat akhir film kartun Grinch ketika hatinya mulai tumbuh, dan seperti itulah saya.)

Saya mencoba menjaga hubungan kami tetap jauh, tapi sulit karena Garrett membuat saya merasa seperti gadis kecil lagi. Dia akan datang ke rumah dan kami akan merokok ganja bersama dan bermain catur dan kartu selama berjam-jam. Waktu itu kami seperti dua anak kecil sedang bersenang-senang. Saya tidak pernah merasa “senang” sejak masa kecil saya.

Garrett dan saya bisa membicarakan apa saja, dan satu hari kami membicarakan Yesus. Kami berdua tumbuh sebagai anak-anak yang mengasihi dan mengenal Yesus Kristus. Saya belajar bahwa Garrett tumbuh di sebuah keluarga Kristen dan dibesarkan dididik di sekolah Kristen. Untuk dua orang yang bertemu di bar, ini adalah sebuah “kebetulan” yang luar biasa. Saya membuka hati tentang trauma yang saya alami, dan ia mendengarkan dan ada bagi saya. Ia tahu saya pernah terlibat dalam industri pornografi dan pelacuran, tapi dia benar-benar bersedih bagi saya. Ia berkata ia mau menyelamatkan saya. Saya tidak pernah bertemu pria seperti Garrett. Ia melihat sesuatu dalam diri saya yang tidak dilihat orang lain. Ia seorang sahabat bagi pelacur, seperti Yesus. Kami tahu Tuhan sedang bekerja dalam hidup kami, jadi kami kembali kepada Yesus dan menikah tanggal 14 Februari 1995.

Hidup baru kami dimulai sebagai kekacauan besar. Garrett kehilangan pekerjaannya setelah kami menikah karena ia tertangkap basah menggunakan narkotika di tempat kerja. Kami harus pergi ke departemen sosial dan menerima bantuan finansial. Semua menjadi semakin buruk dan godaan untuk saya kembali ke gaya hidup yang lama benar-benar menggoyahkan. Tapi Tuhan punya ide yang lebih baik. Garrett bergabung dengan angkatan bersenjata.

Setelah pelatihan dasar, Garrett kembali sebagai pria yang baru, bebas dari ketergantungan narkotika dan akan dipromosikan ke basis militer Fort Lewis di Negara bagian Washington. Saya hamil dan melahirkan Teresa di tahun 1997. Saya bisa lepas dari alkohol selama hamil tapi segera kembali setelahnya.

Setiap kali saya menggendong bayi baru saya, saya teringat kembali betapa tertolaknyasaya oleh orang tua saya dan semua pria dan wanita yang telah melecehkan saya. Tuhan membangkitkan memori itu agar Ia dapat menyembuhkan saya, tapi bagi saya rasa sakit itu tidak tertahankan. Akhirnya saya lari kembali ke alkohol. Tapi rasa sakit itu menjadi semakin buruk sehingga saya pergi mencari pertolongan ke klinik kesehatan mental militer dan di-diagnosis mengidap bipolar disorder, kesalahan pada pengaturan detak jantung, ketergantungan alkohol, depresi, dan stress pos-traumatik. Saya diberikan zoloft, pil tidur, lithium dan waktu konseling. Saya diberikan video untuk melatih saya mengontrol kemarahan saya, yang malah membuat saya semakin marah ketika menontonnya! Saya sudah melalui program-program inti dari angkatan bersenjata tapi tetap ketergantungan saya tidak hilang. Saya juga didiagnosis mengidap kanker tengkukyang harus segera dioperasi. Konsekuensi masa lalu saya mengejar-ngejar saya. Saya ingin menyerah saja. Tidak ada yang berhasil!! Tapi Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Tuhan memimpin Garrett dan saya menghadiri sebuah gereja luar biasa bernama Champions Centre di Tacoma, Washington di mana kami diajar menjalani hidup seperti seorang pemenang. Gereja ini dikenal karena membangun hidup berkemenangan melalui kebijaksanaan Firman Allah. Saya diajar untuk hidup dengan percaya, bahwa saya dapat melalui APA SAJA karena dengan Tuhan TIADA YANG MUSTAHIL. Bersama Tuhan, saya sudah diampuni total dari segala dosa saya dan diberi kesempatan untuk bertumbuh menjadi seseorang yang baru tanpa harus menjadi sempurna dulu. Benar-benar melegakan! Saya belajar bahwa Tuhan mengasihi saya tanpa syarat, tidak peduli masa lalu saya, dan bahkan Ia punya rencana untuk masa depan saya. Tuhan punya rencana untuk hidup saya? Saat itu saya merasa seolah-olah seseorang telah menyalakan lampu di hidup saya yang selama ini gelap.

Di bulan November, 1999, saya melahirkan Abigail, dan meskipun saya minum alkohol selama kehamilan saya, Tuhan membiarkannya hidup. Setelah ia lahir, Tuhan AKHIRNYA menjawab doa-doaku dan mengangkat ketergantunganku terhadap alkohol. Saya bersih tanggal 9 April 2000, dan itu adalah waktu yang sangat spesial bagihidup saya. Saya mulai lapar untuk mengenal Tuhan lebih lagi, dan giat belajar bagaimana menjadi wanita yang “normal”. Saya mulai membaca buku tentang bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik, dan bagaimana memasak dan mengurus rumah saya. Saya memperhatikan wanita-wanita lain bagaimana mereka mencuci pakaian, bagaimana mereka berpakaian, dan bagaimana mereka berbicara terhadap suami dan anak-anak mereka. Bertahun-tahun saya memasang telinga KEMANA SAJA.

Saya bisa berdiri di bagian penjualan daging di sebuah super market dan mendengarkan ibu di dekat saya menjelaskan bagaimana membuat daging panggang, dan langsung pulang ke rumah dan mencobanya! Sering saya berlama-lama di super market hanya untuk belajar!! Harfiahnya, saya mungkin punya lebih dari 100 mentor yang saya sendiri bahkan tidak tahu betapa mereka telah membantu saya. Saya harus mengulang SEMUANYA dari nol dan belajar bagaimana menjadi seorang normal yang hidup di lingkungan normal, jadi saya mengelilingi diri saya dengan orang-orang unggul untuk belajar dari mereka.

Saya juga mempraktekkan prinsip-prinsip Allah dalam segala sesuatu yang saya lakukan dan saya mulai merasakan sukacita sejati untuk pertama kali dalam 13 tahun terakhir!! Tuhan juga membantu saya belajar mendesain web, membuat saya merasa berhasil dan dapat menggunakan kreativitas saya. Saya sudah memiliki dan mengoperasikan bisnis desain web saya selama 4 tahun. Saya juga mulai menghadiri universitas, dan sekarang saya hampir menjadi seorang sarjana muda Teologia.

Karena saya memilih mengikuti Dia segenap hati, Dia memberkati segala sesuatu yang saya sentuh tepat seperti yang dijanjikan-Nya dalam firman Yohanes 13:17, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Setelah hari pertama saya melangkahkan kaki saya ke Champion center dengan hati yang luka dan hidup yang berantakan, delapan tahun kemudian saya berjalan keluar sebagai seorang wanita pemenang (champion) yang disembuhkan dan bersemangat akan hidup saya! Tuhan secara total melepaskan saya dari narkotika, alkohol, memori yang sakit, penyakit mental, kecanduan seks, trauma seksual, dan rasa bersalah dan rasa malu dari masa lalu saya. Tuhan mengambil saya keluar dari hidup saya yang lama, menawarkan sebuah hidup baru, dan meskipun pada awalnya saya tidak bisa melihatnya, saya menyerahkan hidup saya dan mempercayai-Nya. Itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil!

Tuhan juga memulihkan kewanitaan saya dan menyembuhkan seksualitas saya, yang merupakan suatu mukjizat besar bagi saya. Setelah melacur dan terjun ke dalam dunia pornografi, saya kehilangan fungsi saya secara seksual. Fakta bahwa saya dapat menikmati hubungan intim yang sehat sekarang ini, nyata merupakan sebuah mukjizat. Tuhan juga menyembuhkan saya dari penyakit herpes yang menurut manusia tidak dapat disembuhkan. Waktu saya menjadi objek pembelajaran angkatan bersenjata untuk wanita hamil yang menderita herpes pada tahun 1996, saya diperiksa dan mereka berkata saya tidak bisa ikut dalam program itu, karena tidak ada virus herpes dalam darah saya. Hasil tesnya negatif! Saya juga bebas dari kanker karena dokter-dokterberhasil membuang semua kanker tengkuk saya. Dialah Jehovah-Rapha, Allah yang menyembuhkan kita!

Tuhan juga menyembuhkan pernikahan kami dengan cara yang luar biasa. Garrett dan saya memiliki hubungan cinta yang indah dan penuh warna! Baca cerita kami yang LUAR BIASA di sini. Tuhan telah melakukan lebih banyak mukjizat lagi di dalam keluarga saya sendiri. Garrett memiliki pekerjaan yang hebat sehingga saya bisa tinggal di rumah, menjadi ibuyang baik, juga melakukan pelayanan. Tiga putri-putri pemenang kami dibesarkan dengan iman dan kasih terhadap Yesus Kristus, dan mereka menghadiri sekolah Kristen. Tiffany, putri saya yang paling tua, yang sekarang berumur 18 tahun, telah mengampuni saya dan memberi saya kesempatan menjadi ibu yang bijak baginya. Ia telah melewati banyak hal dalam hidupnya dan sekarang membagikan kesaksiannya dengan banyak orang untuk menginspirasi dan menguatkan mereka. Saya SANGAT bersyukur saya tidak melakukan aborsi, karena Tiffany adalah seorang wanita yang cantik dan brilian yang punya begitu banyak talenta dalam hidupnya. Ia sangat berbakat secara musikal dan dapat memainkan beberapa instrumen. Tiffany juga merasa Tuhan memanggilnya untuk menjangkau kaum muda yang terluka dan akan memimpin forum remaja di situ-sini. Kerinduannya adalah masuk universitas dan mengambil gelar dalam bidang konseling, jadi ia dapat menggunakan pengalaman masa lalu dan pendidikannya untuk menjangkau kaum muda di tengah kesulitan mereka.

Seperti Anda lihat, Bapa sudah bekerja begitu luar biasa dalam hidup saya dalam dua belas tahun terakhir. Saya memang harus melewati delapan tahun pemulihan. Saya harus membuat pilihan memulai kembali hidup saya dan percaya apa yang Tuhan katakan pada saya, bukan kebohongan-kebohongan dari iblis atau kebohongan tentang gambar diri saya yang sudah rusak. Tuhan menjadi Bapa sejati saya, dan Dia mengajar saya bagaimana mengasihi, mengampuni, dan memiliki gambar diri saya di dalam Dia, bukan masa lalu saya. Saya juga belajar bagaimana memiliki hidup yang sukses dengan mempraktekkan prinsip-prinsip Tuhan dalam segala sesuatu. Apapun yang Firman Tuhan katakan, itu pasti bagi saya. Saya menjadi ciptaan yang baru dan kuat melalui kuasa Yesus Kristus, Pemenang sejati yang sudah mengubah hidup saya!Tuhan sekarang mengirim saya dengan sebuah pesan pada dunia betapa riil-nya kasih-Nya yang luar biasa itu. Bagaimana Ia sudah menciptakan setiap kita serupa dengan gambarnya, dan betapa kita begitu dikasihi dan diterima.

Bagaimana Ia mengirim Anak-Nya Yesus Kristus untuk membebaskan kita dari narkotika, alkohol, keterikatan seksual, penolakan, dan semua kebohongan iblis. Saya bangga menunjukkan pada dunia, bahwa YA, Tuhan mengambil seorang bintang porno dan pelacur dan menjadikannya Pemenang. Tuhan adalah Bapa terbaik, dan Ia ingin semua anak-anak-Nya menemukan jalan pulang kepada-Nya supaya Ia dapat menyembuhkan mereka dan menjadikan mereka Pemenang-pemenang. Tapi pilihannya ada di tangan ANDA.

Saya juga ingin semua orang tahu bahwa apapun yang Tuhan lakukan bagi saya, Ia akan melakukannya bagi Anda. Dan Ia akan melakukan ini karena Ia MENGASIHI Anda dan mengirimkan anak-Nya Yesus Kristus untuk memberimu hidup yang baru. Yang perlu kita lakukan adalah datang pada Yesus dan belajar dari-Nya.

Matius 11:28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Inginkah Anda memiliki ketenangan dalam jiwa Anda? Saya ingin. Dulu saya sakit dan lelah diombang-ambingkan hidup. Saya lelah harus bertarung untuk hidup setiap hari. Saya hanya ingin merasakan damai dan menemukan kasih sejati tapi dunia tidak bisa memberi itu bagi saya. Saya sudah mencari kasih dalam laki-laki, benda material, ketenaran dan kekayaan, dalam narkotika dan alkohol dan saya MASIH KOSONG. Yang saya inginkan dulu hanyalah kehidupan yang normal. Sampai saya menemukan kebenaran:
Yesus datang untuk memberimu hidup dalam segala kelimpahannya (Yohanes 10:10). Dan tentu saja, SAYA AKHIRNYA menemukan kehidupan yang selalu saya inginkan. Mengapa Anda tidak menaruh kepercayaan Anda pada Tuhan dan Anak-Nya Yesus Kristus, dan segera mengalami hidup berkelimpahan itu? Mungkin tidak akan terjadi dalam satu-dua hari, tapi saya berjanji, itu PASTI terjadi. Saya tahu karena hal ini terjadi bagi saya. Sayalah bukti hidup bahwa Tuhan itu ada, bahwa Ia mengasihi ANDA tidak peduli apa yang sudah Anda lakukan, dan Ia punya rencana yang sempurna dan tujuan bagi hidup Anda.

Klik disini untuk mempelajari lebih lagi tentang Tuhan dan kasih-Nya yang luar biasauntuk Anda. Shelley, seorang sahabat yang mendukung anda.

Secara pribadi saya ingin mengucapkan “Terima Kasih” untuk begitu banyak orang yang telah membantu pemulihan saya:

• Pastor Kevin dan Sheila Gerald di http://www.championscentre.com – Untuk mengajari saya kebijaksanaan dan menjadi seorang pemenang dalam hidup. Dapatkan pengajaran mereka yang luar biasa di http://www.kgcmedia.com.

• Patricia dan Argis Hulsey – Untuk mempercayai saya, mendukung saya, dan kesempatan yang kalian berikan untuk mulai melayani di penjara. Mereka juga dua orang tua “spiritual” terbaik yang dapat saya miliki.

• Nuggie Lubben – Untuk sudah menjadi seorang ibu mertua yang luar biasa. Ia mengajar saya bagaimana menjadi ibu yang hebat dan semuanya, mulai dari mencuci pakaian, menyetrika, sampai berkebun! Terima kasih, Mama!

• Kedua orang tuaku – Untuk mengasihi saya dan mengizinkan saya membagi cerita “kita” dengan dunia. Terima kasih sudah mengampuni saya dan memberi saya kesempatan kedua menjadi putri kalian. Saya mengasihi kalian, Mama dan Papa!

• Saudara laki-laki saya Chris – Untuk mengampuni saya dan memberi saya kesempatan menjadi seorang saudara perempuan yang benar, yang selalu saya rindukan. Kamu memiliki hati yang luar biasa dan roh yang indah. Saya ingin terus bekerja denganmu dan sesama pekerja lainnya dalam Kerajaan Allah. Saya mengasihimu Chris.

• Saudara perempuan saya Stacy – Untuk mendoakan saya bahkan ketika saya tidak layak menerimanya. Saya tahu waktu-waktu lalu tidaklah mudah. Saya mengasihimu! Saya juga berdoa Tuhan akan terus memulihkan hubungan kita menurut kehendak-Nya.

• Nenekku yang berketurunan Italia, Nonnie – Yang mempercayai saya ketika tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Yang melihat emas dalam diri saya bahkan ketika sinarnya tersembunyi. Ia berpesan ketika saya masih kecil bahwa saya dapat melakukan apapun kalau saya sungguh-sungguh. Ia tidak akan pernah tahu berapa kali ia sudah menyelamatkan hidup saya. Ia adalah seoarang Pemenang sejati.

• Putriku Tiffany – Untuk mengampuni saya dan mengizinkan saya bertumbuh dan menjadi seorang ibu yang bijak baginya. Terima kasih untuk kesempatan mengasihimu dan menjadi bagian dari hidupmu. Terima kasih untuk menunjukkan kasih Kristus ketika Mama tidak punya siapa-siapa. Terima kasih untuk tidak mengizinkan masa lalu mengikatmu tetapi memilih berlari sebagai Pemenang. Mama sangat bangga terhadapmu, betapa hari ini kamu sudah menjadi seoarang wanita yang luar biasa!

• Dan terima kasih yang sangat istimewa untuk suamiku Garrett – Terima kasih telah menjadi Hosea, Yesus, dan Abraham bagiku. Kepedulianmu terhadap seorang pelacur hari ini berbuah, membangkitkan wanita terhormat yang ada di dalamnya. Kamu beriman dan mempercayai Tuhan akan mengubah situasi yang sulit. Kamu rendah hati, sabar, tahan menderita, dan lembut terhadap wanita terluka yang memerlukan lingkungan yang aman untuk sembuh. Kamu lebih dari pemenang. Aku bedoa aku terus dapat menjadi wanita impianmu.

Sumber: http://www.shelleylubben.com/articles/ShelleyStoryIndonesian.pdf

10 Point perlakuan Kasih , untuk Harimu hari ini yang selalu Diberkati oleh Nya

Standar

10 Point perlakuan Kasih , untuk Harimu hari ini yang selalu Diberkati oleh Nya

point 1. Hari ini aku tak akan membalas.
Kalau seseorang berlaku tak sopan , kasar, tidak sabaran, bersikap kasar, Saya tidak akan merespon atas perilaku yang tidak terpuji itu.
Amsal 14:29. Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

point 2. Hari ini aku akan menanyakan pada Tuhan untuk memberkati ‘musuh’ ku.
Kalau seseorang memperlakukanku secara curang bahkan menipuku , Aku dengan diam-diam akan menanyakan Tuhan untuk memberkatinya bagi mereka yang seperti itu secara pribadi. Aku mengerti bahwa ‘musuh’ dapat menjadi tetangga, rekanan kerja, bahkan anggota keluarga.
Matius 5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

point 3. Hari ini aku akan berhati-hati atas segala yang aku katakan.
Aku akan selalu berhati-hati memilih dan menjaga setiap kata-kata yang tidak mengakibatkan dan menyebar gossip.
Amsal 14:3. Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya, tetapi orang bijak dipelihara oleh bibirnya.

point 4. Hari ini aku akan pergi lebih jauh lagi.
Aku akan temukan jalan untuk menolong dan membagi beban dari orang lain.
Matius 10:7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

point 5. Hari ini aku akan memaafkan.
Aku akan memaafkan luka atau sakit hati di depan jalanku.
Amsal 19:11. Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.

point 6. Hari ini aku akan melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain ( tapi aku akan melakukannya secara diam-diam)
Aku akan menjadi berkat bagi kehidupan dan orang lain.
II Timotius 3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

point 7. Hari ini aku akan memperlakukan orang lain , sebagaimana aku memperlakukan diriku.
Aku akan mempraktekkan ajaran emas ” Perlakukan orang lain sebaik kamu memperlakukan dirimu sendiri. Dengan setiap orang yang aku temui.
Roma 13:9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

point 8. Hari ini aku akan membangkitkan iman seseorang yang merasa kecil hatinya.
Senyumku , kata-kataku dan perilaku ku , mendukung dalam melakukan perubahan bagi seseorang yang sedang bergulat dalam kehidupannya.
Ibrani 12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.

point 9. Hari ini aku akan memelihara tubuhku.
Aku akan makan secukupnya, dengan makanan sehat yang menyehatkan tubuhku. Aku berterima Kasih atas karunia tubuh ini dari Tuhan.
Efesus 2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

point 10. Hari ini aku akan tumbuh imanku.
Aku akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdoa setia harinya. Aku akan mulai membaca Alkitab, inspirasi atau renungan rohani. Aku akan menemukan tempat yang tenang untuk mulai membacanya dan mendengarkan suara Tuhan.
Keluaran 15:26 firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”

Penebusan hanya melalui Kristus

Standar

Yohanes
14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
8:24 Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.”
10:9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.

Kisah Para Rasul
4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Ibrani
7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Kolose
1:12. dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.
1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

Lukas
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Wahyu
5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

Titus
2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.