ADAPTASI, EVOLUSI, VARIASI DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

BAB I
PENDAHULUAN

1). Latar Belakang

Makhluk hidup dalam kehidupannya melakukan adaptasi untuk dapat bertahan hidup. Adaptasi terjadi biasanya disebabkan adanya seleksi alam yang menuntut makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang baru. Adaptasi yang dilakukan oleh hewan dapat berupa adaptasi fisiologis, morfologis dan tingkah laku. Sedangkan adaptasi yang dilakukan oleh tumbuhan hanya berupa adaptasi fisiologis dan morfologis.

Selain adaptasi, menurut beberapa para ahli di alam juga terjadi evolusi yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan hidup. Dalam evolusi yang menjadi dasar terjadinya dibawa oleh gen yang diwariskan pada keturunan suatu makhluk hidup. Sifat baru dalam evolusi dapat diperoleh dari perubahan gen oleh mutasi, transfer gen antar populasi, seperti dalam migrasi, atau antar spesies.

Di alam juga terjadi kevariasian makhluk hidup merujuk pada peristiwa genetis yang menyebabkan individu atau kelompok spesies tertentu memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Sedangkan keanekaragaman hayati atau disebut juda biodiversitas yang terjadi dialam mencakup semua bentuk kehidupan yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi.


2). Rumusan Masalah

a. Merumuskan dan menjelaskan adaptasi pada makhluk hidup, baik pada hewan maupun pada tumbuhan.

b. Menjelaskan tentang evolusi makhluk hidup dan mendiskripsikan tentang teori evolusi Darwin.

c. Menjelaskan tentang keterdapatan variasi pada makhluk hidup.

d. Menjelaskan keanekaragaman hayati yang terdapat di alam.


3). Tujuan Penulisan

a. Untuk mengetahui tentang terjadinya adaptasi dan jenis-jenisnya.

b. Untuk mengetahui tentang terjadinya evolusi dan teori evolusi Darwin

c. Untuk mengetahui tentang keterdapatan variasi-variasi pada makhluk hidup.

d. Untuk mengetahui tentang keanekaragaman hayati di alam.

BAB II

PEMBAHASAN


I. Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik. Dalam karangan ini akan dijelaskan tentang adaptasi yang dilakukan oleh hewan dan tumbuhan dan perbedaan adaptasi yang dilakukan oleh hewan dengan adaptasi yang dilakukan oleh tumbuhan terhadap lingkungannya.

Adaptasi Hewan : kemampuan hewan untuk menyesuaikan dirinya terhadap perubahan-perubahan keadaan alam atau lingkungannya (seleksi alam). Adapun jenis-jenis dan macam-macam adaptasi pada hewan adalah:

a. Adaptasi Morfolog

Adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, yang runcing dan tajam untuk makan daging, sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan untuk mengunyah makanan.

b. Adaptasi Fisiologi

Adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh pada onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

c. Adaptasi Tingkah Laku

Adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya berupa kemampuan hewan untuk merubah warna kulit tubuhnya sesuai dengan lingkungan sekitarnya sehingga kurang dapat terlihat. Kemampuan hanya bisa dilakukan oleh beberapa hewan, seperti cumi-cumi, sotong dan bunglon. Sebagai contoh pada bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri sehingga tidak terlihat oleh dari para pemangsa seperti pada contoh gambar di bawah ini:

Adaptasi Tumbuhan: penyesuaian diri yang dilakukan oleh tumbuhan terhadap lingkungan yang baru, baik perubahan fisiologis maupun morfologis dan proses penyesuaian ini berjalan lambat dan sangat tergantung kepada kondisi lingkungan barunya, apakah sesuai dengan sangat hidup tumbuhan tersebut dan kandungan unsur hara yang terdapat di lingkungan tersebut.

Dalam proses adaptasi, tumbuhan melalui berbagai tahapan, yaitu:

a. Tahap Aklimatisasi : tahap di mana tumbuhan berusaha keras untuk dapat mempertahankan hidup di tempat baru dengan mengubah kemampuan fisiologis dan atau morfologi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

b. Tahan Naturalisasi : tahap di mana tumbuhan telah mampu menyesuaikan dirinya dengan faktor lingkungan dan terus berusaha untuk menyempurnakan proses adaptasinya ke arah yang positif.

c. Tahap Domestikasi : tahap di mana proses adaptasi tumbuhan sudah dapat menyesuaikan diri dengan, lingkungan barunya dan sudah mulai dapat menjalankan kehidupannya untuk melewati siklus hidupnya dengan baik

II. Evolusi

Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks biologi yang modern, evolusi berarti perubahan sifat-sifat yang diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menjadi dasar dari evolusi dibawa oleh gen yang diwariskan pada keturunan suatu makhluk hidup. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen oleh mutasi, transfer gen antar populasi, seperti dalam migrasi, atau antar spesies seperti yang terjadi pada bakteria, serta kombinasi gen melalui reproduksi seksual. Dan dalam teori evolusi terdapat empat akar utama dalam teori evolusi yaitu :

a. Earth History – Sejarah bumi (Geologi)

b. Life’s History – Ilmu tentang mahluk hidup

c. Mechanisms of Evolution – Mekanisme evolusi

d. Development & Genetics – Perkembangan dan Genetika

Meskipun teori evolusi yang selalu identik dengan Charles Darwin, namun sebenarnya biologi evolusi telah berakar sejak zaman Aristoteles. Namun demikian, Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin tentang evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas masyarakat sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.

Darwin mengajukan lima teori perihal evolusi:

  1. Bahwa kehidupan tidak tetap sama sejak awal keberadaannya
  2. Kesamaan leluhur bagi semua makhluk hidup
  3. Evolusi bersifat gradual (berangsur-angsur)
  4. Terjadi pertambahan jumlah spesies dan percabangan garis keturunan
  5. Seleksi alam merupakan mekanisme evolusi

Evolusi menjelaskan sejarah makhluk hidup, hewan, tumbuhan, fungi, mikroba. Waktu adalah faktor penting dalam evolusi. Proses evolusi memerlukan waktu yang sangat lama. Menurut Darwin, ada dua mekanisme yang mendasari evolusi.

Pertama, proses evolusi membawa spesies yang ada untuk berinteraksi dengan kondisi ekologinya. Contohnya, karena hasil evolusi beberapa burung mempunyai paruh yang hanya bisa dipakai untuk menghisap madu bunga. Selama bunga itu masih tersedia, burung ini akan hidup. Tetapi, bila bunga itu punah, maka burung itu kemungkinan besar juga akan punah.

Mekanisme yang kedua adalah kelahiran spesies baru dari hasil variasi di spesies yang ada.. Waktu dan perjuangan untuk hidup adalah dua hal yang dibutuhkan untuk melahirkan generasi baru. Waktu yang lebih panjang lagi dan melalui proses yang sama, menurut Darwin akan dapat menjelaskan evolusi dari semua mahluk hidup di muka bumi yang berasal dari satu nenek moyang yang sama.

III. Variasi.

Variasi merupakan sesuatu hal yang merujuk pada peristiwa genetis yang menyebabkan individu atau kelompok spesies tertentu memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Sebagai contoh, pada dasarnya semua orang di bumi membawa informasi genetis sama. Namun ada yang bermata sipit, berambut merah, berhidung mancung, atau bertubuh pendek, tergantung pada potensi variasi informasi genetisnya.

Evolusionis menyebut variasi dalam suatu spesies sebagai bukti kebenaran teorinya. Namun, variasi bukanlah bukti evolusi, karena variasi hanya hasil aneka kombinasi informasi genetis yang sudah ada, dan tidak menambahkan karakteristik baru pada informasi genetis.

Variasi selalu terjadi dalam batasan informasi genetis yang ada. Dalam ilmu genetika, batas-batas ini disebut “kelompok gen” (gene pool). Variasi menyebabkan semua karakteristik yang ada di dalam kelompok gen suatu spesies bisa muncul dengan beragam cara. Misalnya pada suatu spesies reptil, variasi menyebabkan kemunculan varietas yang relatif berekor panjang atau berkaki pendek, karena baik informasi tentang kaki pendek maupun panjang terdapat dalam kantung gen.

Namun, variasi tidak mengubah reptil menjadi burung dengan menambahkan sayap atau bulu-bulu, atau dengan mengubah metabolisme mereka. Perubahan demikian memerlukan penambahan informasi genetis pada makhluk hidup, yang tidak mungkin terjadi dalam variasi.

IV. Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Jenis keanekaragaman hayati:

a. Keanekaragaman genetik (genetic diversity). Yaitu jumlah total informasi genetik yang terkandung di dalam individu tumbuhan, hewan dan mikroorganisme yang mendiami bumi.

b. Keanekaragaman spesies (species diversity). Yaitu Keaneraragaman organisme hidup di bumi (diperkirakan berjumlah 5 – 50 juta), hanya 1,4 juta yang baru dipelajari.

c. Keanekaragaman ekosistem (ecosystem diversity). Yaitu Keanekaragaman habitat, komunitas biotik dan proses ekologi di biosfer.

1). Keanekaragaman Hewan:

Hewan atau binatang adalah kelompok organisme yang diklasifikasikan dalam kerajaan Animalia atau Metazoa, adalah salah satu dari berbagai makhluk hidup yang terdapat di alam semesta yang terdiri dari satu sel (uniselular) atau pun banyak sel (multiselular).

Para ilmuwan mengklasifikasikan hewan kepada dua kelompok besar, yaitu hewan bertulang belakang dan hewan tanpa tulang belakang. Hewan yang bertulang belakang disebut Vertebrata. Hewan tanpa tulang belakang disebut Invertebrata atau Avertebrata. Dan hewan juga diklasifikasikan menurut makanan mereka.

a. Hewan yang memakan daging dikenal sebagai hewan karnivora. Contoh: serigala, singa dan harimau

b. Hewan yang memakan tumbuhan dikenal sebagai hewan herbivora. Contoh: kambing, kuda dan kerbau serta gajah

c. Hewan yang memakan daging dan tumbuhan dikenal sebagai hewan omnivora.

d. Hewan yang memakan serangga dikenal sebagai hewan insektivora. Contoh: trenggiling, merkat.

Dan keanekaragaman pada keluarga kucing dapat dilihat hewan harimau, singa, citah dan kucing. Walaupun hewan-hewan tersebut termasuk dalam satu famili tetapi diantara mereka terdapat perbedaan-perbedaan sifat yang mencolok. Misalnya, perbedaan warna bulu, tipe lorengnya, ukuran tubuh, tingkah laku, serta lingkungan hidupnya. Seperti dapat dilihat pada gambar dan table di bawah ini:

Dari gambar dan tabel diatas dapat dilihat perbedaan yang sangat jelas dari ukuran tubuh, warna bulu dan tempat hidup kucing, harimau, singa dan citah yang termasuk ke dalan keanekaragaman keluarga / spesies kucing. Dan masih banyak lagi contoh keanekaragaman hewan yang dapat kita lihat di alam ini.

b). Keanekaragaman Tumbuhan:

Dalam biologi, tumbuhan merujuk pada organisme yang termasuk ke dalam kelas Plantae. Di dalamnya masuk semua organisme seperti pepohonan, semak, terna, rerumputan, paku-pakuan, lumut, serta sejumlah alga hijau. Tercatat sekitar 350.000 spesies organisme termasuk di dalamnya, tidak termasuk alga hijau. Dari jumlah tersebut, 258.650 jenis merupakan tumbuhan berbunga dan 18.000 jenis tumbuhan lumut. Hampir semua anggota tumbuhan bersifat autotrof, dan mendapatkan energi langsung dari cahaya matahari melalui proses fotosintesis. Karena warna hijau amat dominan pada anggota kerajaan ini, nama lain yang dipakai adalah Viridiplantae (tumbuhan hijau) atau Metaphyta.

Ciri yang segera mudah dikenali pada tumbuhan adalah warna hijau yang dominan akibat kandungan pigmen klorofil yang berperan vital dalam proses penangkapan energi melalui fotosintesis. Dengan demikian, tumbuhan secara umum bersifat autotrof. Beberapa pengecualian, seperti pada sejumlah tumbuhan parasit, merupakan akibat adaptasi terhadap cara hidup dan lingkungan yang unik. Karena sifatnya yang autotrof, tumbuhan selalu menempati posisi pertama dalam rantai aliran energi melalui organisme hidup (rantai makanan).

Tumbuhan bersifat stasioner atau tidak bisa berpindah atas kehendak sendiri, meskipun beberapa alga hijau bersifat motil (mampu berpindah) karena memiliki flagelum. Akibat sifatnya yang pasif ini tumbuhan harus beradaptasi secara fisik atas perubahan lingkungan dan gangguan yang diterimanya

Contoh keanekaragaman tumbuhan dapat dilihat dalam keluarga kacang-kacangan, antara lain; kacang tanah, kacang kapri, kacang hijau dan kacang buncis. Di antara jenis kacang-kacangan tersebut Anda dapat dengan mudah membedakannya, karena antara mereka ditemukan ciri-ciri yang berbeda antara ciri satu dengan yang lainnya. Misalnya ukuran tubuh atau batang (ada yang tinggi dan pendek), kebiasaan hidup (tumbuh tegak, ada yang merambat), bentuk buah dan biji, warna biji, jumlah biji, serta rasanya yang berbeda. Seperti dapat dilihat pada gambar berikut:

Demikian pula pada kelompok tumbuhan yang tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah akan memperlihatkan perbedaan-perbedaan sifat pada tinggi batang, daun dan bunga. Contohnya kelapa, aren, pinang, dan lontar.


Dari contoh di atas dapat diketahui perbedaan antara tnggi batang, daun dan bunga kelapa, aren, pinang dan lontar. Contoh lain juga dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di alam dan hampir pada semua spesies tumbuhan terdapat keanekaragaman mulai dari tumbuhan tingkat rendah sampai tumbuhan tingkat tinggi.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan:

Makhluk hidup dalam kehidupannya melakukan adaptasi untuk dapat bertahan hidup. Adaptasi terjadi biasanya disebabkan adanya seleksi alam yang menuntut makhluk hidup (hewan dan tumbuhan) untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang baru.

Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan sifat-sifat yang diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam jangka waktu tertentu. Dalam evolusi yang menjadi dasar terjadinya dibawa oleh gen yang diwariskan pada keturunan suatu makhluk hidup. Sifat baru dalam evolusi dapat diperoleh dari perubahan gen oleh mutasi, transfer gen antar populasi, seperti dalam migrasi, atau antar spesies

Variasi merupakan sesuatu hal yang merujuk pada peristiwa genetis yang menyebabkan individu atau kelompok spesies tertentu memiliki karakteristik berbeda satu sama lain. Variasi bukanlah bukti evolusi, karena variasi hanya hasil aneka kombinasi informasi genetis yang sudah ada, dan tidak menambahkan karakteristik baru pada informasi genetis

Biodiversitas adalah semua bentuk kehidupan yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi di mana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya, baik itu keanekaragaman pada hewan maupun keanekaragaman pada tumbuhan.

Apa itu gempa bumi…??

Gempa bumi (juga dikenal sebagai getaran atau gempa bumi) adalah hasil dari pelepasan tiba-tiba energi di bumi kerak yang menciptakan gelombang seismik. Gempa bumi direkam dengan Seismometer, juga dikenal sebagai seismograf. Ukuran Magnitude dari gempa bumi dilaporkan secara konvensional, atau yang terkait dan kebanyakan usang Richter besar, dengan besar gempa bumi 3 atau lebih rendah karena sebagian besar tidak terlihat dan besarnya 7 menyebabkan kerusakan serius atas area yang luas. Gemetar intensitas diukur pada yang diubah skala Mercalli.

Di permukaan bumi, gempa bumi mewujudkan diri mereka sendiri dengan gemetar dan kadang-kadang menggusur tanah. Ketika gempa bumi besar pusat gempa terletak di lepas pantai, dasar laut yang cukup menderita perpindahan kadang-kadang menimbulkan tsunami. Gempa bumi yang gemetar juga dapat memicu tanah longsor dan kadang-kadang aktivitas gunung berapi.

earthquake

Dalam pengertian yang paling umum, kata gempa bumi ini digunakan untuk menggambarkan setiap kejadian seismik – apakah alam fenomena atau suatu kejadian yang disebabkan oleh manusia – yang menghasilkan gelombang seismik.Gempa bumi sebagian besar disebabkan oleh pecahnya geologi kesalahan, tetapi juga oleh aktivitas gunung berapi, tanah longsor, ledakan tambang, dan percobaan nuklir. Gempa bumi sudut pecah awal disebut dengan fokus atau Pusat gempa.Istilah episenter mengacu pada titik di lantai dasar Pusat gempa tepat di atas.

Quake_epicenters_1963-98

Sumber : Wikipedia.org

fenomena kehidupan tumbuhan diplanet lain

Semua Tumbuhan yang ada di planet bumi mampu hidup dan melakukan adaptasi di planet selain bumi kita asalkan adanya composisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan tersebut untuk hidup , Penelitian komposisi pada tumbuhan bisa mengunakan teknologi Hydroponik dan rumah kaca dimana rumah kaca ini digunakan untuk bisa menahan alur oksigen yang keluar pada tanaman jika tanaman itu sedang melakukan fotosintetis.

Komposisi Perawatan Tumbuhan diluar angkasa hanya membutuhkan sedikit Oksigen dibandingkan hasil oksigen yang dihasilkan oleh Tanaman tersebut fenomena ini bisa anda dapatkan pada saat anda di daerah yang penuh dengan tumbuhan dimana kualitas udara akan sangat berbeda dengan keadaan yang ada di daerah perkotaan.

image008

Dengan Rumah Kaca buatan maka si tumbuhan pun akan bisa bertahan hidup dimana ruangan kaca ini harus di design mampu menghalau sinar UV atau Sinar lainnya yang berlebihan dengan cara membuat lapisan kaca Film seperti Lapisan Pada Atmosfir bumi kita ini , teknologi yang ada saat ini sudah ada dimana teknologi kaca Film yang ada bisa disesuaikan untuk kondisi di luar angkasa sehingga mampu menyaring cahaya yang tidak baik untuk tanaman.

Pengaruh Adaptasi pada tanaman akan terjadi jika daya gravitasi berbeda dengan ada yang dibumi maka tanaman akan bertambah 4 kali tinggi dan besar atau menjadi lebih kecil sesuai dengan daya gravitasi yang ada , Teknologi yang ada saat ini pun sudah bisa digunakan untuk membangun ekosistem hutan pada Bulan ataupun Planet Mars, Tanaman tidak akan bisa hidup jika tidak adanya Gaya Gravitasi ( Buatan Ataupun Bukan Buatan) maka dalam menciptakan Oasis pada Ruang Angkasa anda membutuhkan Gaya Gravitasi untuk menumbuhkan Tanaman.

Komposisi udara pada Rumah kaca ini bisa anda lakukan dengan menyamakan komposisi udara yang ada di planet bumi kita ini dimana 30 % Oksigen , 70 Nitrogen dan material lainnya , Saat saya melihat alur siklus pada bumi kita ini dimana alur siklus hujan dimana air yang digunakan oleh hujan adalah air yang sama yang mengalir dari gunung hingga kelaut dan akan terus berulang .

Siklus air ini saat saya perhatikan jumlah keseluruhan air yang ada dibumi adalah tetap sama dimana jumlah yang terbesar ada di lautan dan pada lapisan ES Kutub Utara dan Selatan, debit air yang ada di Bumi Jumlah nya tetap sama dimana ini bisa kita semua ambil kesimpulannya bahwa dengan debit air yang kita bawa ke luar angkasa sebesar 200 liter maka jumlah tersebut akan tetap sama jika kita mengunakan siklus air sama dengan yang ada di bumi kita ini dimana jumlah air pun tidak akan pernah berkurang akan tetap sama yaitu 200 liter air.

Dengan Kesimpulan ini maka manusia pun akan tetap bisa hidup pada planet lain dengan  membawa air dan udara dengan jumlah yang tetap sama bahkan tidak perlu dilakukannya penambahan Jumlah Air & udara karena jika kita mempelajari siklus bumi anda pun akan memahaminya bahwa kuantitas air dan udara akan sama hanya diperlukan Suatu Kondisi yang sama dengan yang ada pada bumi kita ini, saya yakin teknologi yang ada saat ini anda semua sudah memahami bagaimana siklus udara dan hujan yang ada dibumi kita ini.

Tumbuhan & Hewan mampu melakukan adaptasi diluar pikiran manusia dimana hewan dan Tumbuhan hanya membutuhkan air dan sumber panas pun hidup walaupun tidak ada nya cahaya hewan & tumbuhan masih akan tetap hidup dan melakukan adaptasi sesuai dengan Lingkungan yang ada, Jangan kan di planet lain di dasar lautan terdalam pun masih ada kehidupan dimana Hewan & Tumbuhan yang ada di dasar Lautan mampu beradaptasi sesuai dengan keadaan Lingkungannya.

Dengan Teknologi Yang Ada Saat ini Manusia sudah Mampu Membuat Suatu Kota Di Planet Lain selain bumi kita ini

Jangankan Tumbuh & Hidup diplanet lain Hewan & Tumbuhan mampu melakukan adaptasi diluar Pikiran akal manusia

Prinsip-prinsip ekologi

Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Faktor Biotik

Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer.

Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan. Secara lebih terperinci, tingkatan organisasi makhluk hidup adalah sebagai berikut. Perhatikan Gambar.

Gbr. Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup

A. Individu
Individu merupakan organisme tunggal seperti : seekor tikus, seekor kucing, sebatang pohon jambu, sebatang pohon kelapa, dan seorang manusia. Dalam mempertahankan hidup, seti jenis dihadapkan pada masalah-masalah hidup yang kritis. Misalnya, seekor hewan harus mendapatkan makanan, mempertahankan diri terhadap musuh alaminya, serta memelihara anaknya. Untuk mengatasi masalah tersebut, organisme harus memiliki struktur khusus seperti : duri, sayap, kantung, atau tanduk. Hewan juga memperlihatkan tingkah laku tertentu, seperti membuat sarang atau melakukan migrasi yang jauh untuk mencari makanan. Struktur dan tingkah laku demikian disebut adaptasi. Perhatikan Gambar 6.4.

Ada bermacam-macam adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya, yaitu: adaptasi morfologi, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah laku.

1. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian bentuk tubuh untuk kelangsungan hidupnya. Contoh adaptasi morfologi, antara lain sebagai berikut.
a. Gigi-gigi khusus
Gigi hewan karnivora atau pemakan daging beradaptasi menjadi empat gigi taring besar dan runcing untuk menangkap mangsa, serta gigi geraham dengan ujung pemotong yang tajam untuk mencabik-cabik mangsanya. Lihat Gambar 6.5.

b. Moncong
Trenggiling besar adalah hewan menyusui yang hidup di hutan rimba Amerika Tengah dan Selatan. Makanan trenggiling adalah semut, rayap, dan serangga lain yang merayap. Hewan ini mempunyai moncong panjang dengan ujung mulut kecil tak bergigi dengan lubang berbentuk celah kecil untuk mengisap semut dari sarangnya. Hewan ini mempunyai lidah panjang dan bergetah yangdapat dijulurkan jauh keluar mulut untuk menangkap serangga. Lihat Gambar 6.6.

c. Paruh
Elang memiliki paruh yang kuat dengan rahang atas yang melengkung dan ujungnya tajam. Fungsi paruh untuk mencengkeram korbannya. Perhatikan Gambar 6.7

d. Daun
Tumbuhan insektivora (tumbuhan pemakan serangga), misalnya kantong semar, memiliki daun yang berbentuk piala dengan permukaan dalam yang licin sehingga dapat menggelincirkan serangga yang hinggap. Dengan enzim yang dimiliki tumbuhan insektivora, serangga tersebut akan dilumatkan, sehingga tumbuhan ini memperoleh unsur yang diperlukan.

e. Akar
Akar tumbuhan gurun kuat dan panjang,berfungsi untuk menyerap air yang terdapat jauh di dalam tanah. Sedangkan akar hawa pada tumbuhan bakau untuk bernapas. (LihatGambar 6.9).

2. Adaptasi fsiologi
Adaptasi fisiologi merupakan penyesuaian fungsi fisiologi tubuh untuk mempertahankan hidupnya. Contohnya adalah sebagai berikut.

a. Kelenjar bau
Musang dapat mensekresikan bau busukdengan cara menyemprotkan cairan melalui sisi lubang dubur. Sekret tersebut berfungsi untuk menghindarkan diri dari musuhnya.

b. Kantong tinta
Cumi-cumi dan gurita memiliki kantong tinta yang berisi cairan hitam. Bila musuh datang, tinta disemprotkan ke dalam air sekitarnya sehingga musuh tidak dapat melihat kedudukan cumi-cumi dan gurita. (LihatGambar 6.1 0).

c. Mimikri pada kadal
Kulit kadal dapat berubah warna karena pigmen yang dikandungnya. Perubahan warna ini dipengaruhi oleh faktor dalam berupa hormon dan faktor luar berupa suhu serta keadaan sekitarnya. Lihat Gambar 6.11.

3. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku merupakan adaptasi yang didasarkan pada tingkah laku. Contohnya sebagai berikut :

a. Pura-pura tidur atau mati
Beberapa hewan berpura-pura tidur atau mati, misalnya tupai Virginia. Hewan ini sering berbaring tidak berdaya dengan mata tertutup bila didekati seekor anjing.

b. Migrasi
Ikan salem raja di Amerika Utara melakukan migrasi untuk mencari tempat yang sesuai untuk bertelur. Ikan ini hidup di laut. Setiap tahun, ikan salem dewasa yang berumur empat sampai tujuh tahun berkumpul di teluk disepanjang Pantai Barat Amerika Utara untuk menuju ke sungai. Saat di sungai, ikan salem jantan mengeluarkan sperma di atas telur-telur ikan betinanya. Setelah itu ikan dewasa biasanya mati. Telur yang telah menetas untuk sementara tinggal di air tawar. Setelah menjadi lebih besar mereka bergerak ke bagian hilir dan akhirnya ke laut. Perhatikan Gambar 6.12.

B. Populasi
Kumpulan individu sejenis yang hidup padasuatu daerah dan waktu tertentu disebut populasi Misalnya, populasi pohon kelapa dikelurahan Tegakan pada tahun 1989 berjumlah 2552 batang.

Ukuran populasi berubah sepanjang waktu. Perubahan ukuran dalam populasi ini disebut dinamika populasi. Perubahan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Misalnya, tahun 1980 populasi Pinus di Tawangmangu ada 700 batang. Kemudian pada tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Dari fakta tersebut kita lihat bahwa selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka kita membagi jumlah batang pohon yangberkurang dengan lamanya waktu perubahan terjadi :

700 – 500 = 200batang
1990-1980
10 tahun

= 20 batang/tahun

Dari rumus hitungan di atas kita dapatkan kesimpulan bahwa rata-rata berkurangnya pohon tiap tahun adalah 20 batang. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penyebab kecepatan rata-rata dinamika populasi ada berbagai hal. Dari alam mungkin disebabkan oleh bencana alam, kebakaran, serangan penyakit, sedangkan dari manusia misalnya karena tebang pilih. Namun, pada dasarnya populasi mempunyai karakteristik yang khas untuk kelompoknya yang tidak dimiliki oleh masing-masing individu anggotanya. Karakteristik iniantara lain : kepadatan (densitas), laju kelahiran (natalitas), laju kematian (mortalitas), potensi biotik, penyebaran umur, dan bentuk pertumbuhan. Natalitas danmortalitas merupakan penentu utama pertumbuhan populasi.

Dinamika populasi dapat juga disebabkan imigrasi dan emigrasi. Hal ini khusus untuk organisme yang dapat bergerak, misalnyahewan dan manusia. Imigrasi adalahperpindahan satu atau lebih organisme kedaerah lain atau peristiwa didatanginya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme; didaerah yang didatangi sudah terdapat kelompok dari jenisnya. Imigrasi ini akan meningkatkan populasi.

Emigrasi adalah peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun. Secara garis besar, imigrasi dan natalitas akan meningkatkan jumlah populasi, sedangkan mortalitas dan emigrasi akan menurunkan jumlah populasi. Populasi hewan atau tumbuhan dapat berubah, namun perubahan tidak selalu menyolok. Pertambahan atau penurunan populasi dapat menyolok bila ada gangguan drastis dari lingkungannya, misalnya adanya penyakit, bencana alam, dan wabah hama.

C. Komunitas
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi.

Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.

D. Ekosistem
Antara komunitas dan lingkungannya selalu terjadi interaksi. Interaksi ini menciptakan kesatuan ekologi yang disebut ekosistem. Komponen penyusun ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora), dan dekomposer/pengurai (mikroorganisme).

Faktor Abiotik
Faktor abiotik adalah faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia. Faktor fisik utama yang mempengaruhi ekosistem adalah sebagai berikut.

a. Suhu
Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup. Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu tertentu.

b. Sinar matahari
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsur vital yang dibutuhkan oleh tumbuhan sebagai produsen untuk berfotosintesis.

c. Air
Air berpengaruh terhadap ekosistem karena air dibutuhkan untuk kelangsungan hidup organisme. Bagi tumbuhan, air diperlukan dalam pertumbuhan, perkecambahan, dan penyebaran biji; bagi hewan dan manusia, air diperlukan sebagai air minum dan sarana hidup lain, misalnya transportasi bagi manusia, dan tempat hidup bagi ikan. Bagi unsur abiotik lain, misalnya tanah dan batuan, air diperlukan sebagai pelarut dan pelapuk.

d. Tanah
Tanah merupakan tempat hidup bagi organisme. Jenis tanah yang berbeda menyebabkan organisme yang hidup didalamnya juga berbeda. Tanah juga menyediakan unsur-unsur penting bagi pertumbuhan organisme, terutama tumbuhan.

e. Ketinggian
Ketinggian tempat menentukan jenis organisme yang hidup di tempat tersebut, karena ketinggian yang berbeda akan menghasilkan kondisi fisik dan kimia yang berbeda.

f. Angin
Angin selain berperan dalam menentukan kelembapan juga berperan dalam penyebaran biji tumbuhan tertentu.

g. Garis lintang
Garis lintang yang berbeda menunjukkan kondisi lingkungan yang berbeda pula. Garis lintang secara tak langsung menyebabkan perbedaan distribusi organisme di permukaan bumi. Ada organisme yang mampu hidup pada garis lintang tertentu saja.

Praktikum osmosis

SISTEM OSMOSIS

Tujuan : – Mempelajari proses osmosis yang terjadi pada sel.

- Mempelajari pengaruh osmosis terhadap perubahan bentuk sel.

Pendahuluan

Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul air berdifusi melewati membran yang bersifat selektif permeabel. Dalam sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua larutan seimbang. Dalam proses osmosis, pada larutan hipertonik, sebagian besar molekul air terikat (tertarik) ke molekul gula (terlarut), sehingga hanya sedikit molekul air yang bebas dan bisa melewati membran. Sedangkan pada larutan hipotonik, memiliki lebih banyak molekul air yang bebas (tidak terikat oleh molekul terlarut), sehingga lebih banyak molekul air yang melewati membran. Oleh sebab itu, dalam osmosis aliran netto molekul air adalah dari larutan hipotonik ke hipertonik.

Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal ini, sel akan mendapat dan kehilangan air yang sama. Banyak hewan-hewan laut, seperti bintang laut (Echinodermata) dan kepiting (Arthropoda) cairan selnya bersifat isotonik dengan lingkungannya. Jika sel terdapat pada larutan yang hipotonik, maka sel tersebut akan mendapatkan banyak air, sehingga bisa menyebabkan lisis (pada sel hewan), atau turgiditas tinggi (pada sel tumbuhan). Sebaliknya, jika sel berada pada larutan hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul air, sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Pada hewan, untuk bisa bertahan dalam lingkungan yang hipo- atau hipertonik, maka diperlukan pengaturan keseimbangan air, yaitu dalam proses osmoregulasi.

Bahan dan Alat

Bahan :

1. Buah pepaya muda / umbi kentang

1. Spyrogyra sp. dengan air tempat hidupnya

2. Larutan isotonis (H2O)

3. Larutan hipertonis (3%, CaCl2)

Alat :

1. Pelubang gabus diameter 1 cm

2. Silet

3. Kertas saring

4. Gelas ukur 10 ml dengan skala ketelitian 0.1 ml

5. Petridish, pinset

6. Gelas piala 100 cc

7. Gelas benda dan gelas penutup

8. Mikroskop cahaya

9. Jarum preparat

10. Pipet

Cara Kerja

Umbi Kentang

1. Buat larutan sukrose 0.3 m (m= molalitas = mol solut/1000 gr H2 O); BM sukrose = 342; 0.1 m sukrose = 0.1 x 342 = 34.2/1000 gr H2O

2. Dengan pelubang gabus, siapkan silinder buah pepaya muda ataupun umbi kentang dan potong dengan ukuran yang sama (diameter 1 cm, panjang 3 cm). Jika tidak tersedia pelubang gabus, dapat juga dibuat potongan umbi bentuk kubus atau persegi. Potongan dibuat 5 potong sebagai ulangan. Letakkan pada tempat tertutup sebelum dilakukan perlakuan selanjutnya.

3. Sebelum potongan silinder dimasukkan ke dalam larutan sukrose, terlebih dahulu diukur volume awal. Caranya: isilah gelas ukur berukuran 10 ml dengan akuades sejumlah volume tertentu (misal 5 ml akuades), kemudian masukkkan potongan silinder yang akan diukur volume awalnya. Selanjutnya hitung dan catat pertambahan volume yang didapat (volume awal potongan silinder = volume akhir akuades setelah ditambah dengan potongan silinder – volume awal akuades yang belum ditambah dengan potongan silinder). Setelah itu segera hilangkan air dari permukaan silinder dengan kertas penghisap. Ingat setiap pengukuran awal volume potongan silinder harus dilakukan dengan cepat untuk menghindari akuades keluar ataupun masuk ke sel.

4. Selanjutnya potongan silinder yang telah diketahui volume awalnya, direndam dalam larutan sukrose.

5. Inkubasikan pada suhu kamar selama 1,5-2 jam dan setiap 15 menit goyangkan dengan tangan.

6. Pada akhir inkubasi, segera hilangkan larutan sukrose dari permukaan silinder dengan kertas penghisap. Ukur volume akhir setiap potongan silinder, caranya seperti penentuan awal volume potongan silinder. Ukur diameter dan panjang umbi dengan menggunakan jangka sorong (kaliper).

8. Masukkan data kelas anda dalam Tabel Pengamatan.

Pengamatan Perubahan Bentuk Sel.

1. Letakkan filamen Spyrogyra sp. pada gelas benda dengan air tempat hidupnya. Air ini dianggap sebagai larutan isotonis.

2. Amati kenampakannya di bawah mikroskop

3. Buat preparat baru Spyrogyra sp. pada gelas benda dan tambahkan dengan larutan hipertonik CaCl2, 3%. Amati kenampakkannya dibawah mikroskop.

4. Buat preparat Spyrogyra sp. baru dan tambahkan larutan hipotonis. Amati apa yang terjadi.

5. Catat semua hasil pengamatan dan diskusikan hasilnya.

Tabel Pengamatan : Perubahan ukuran umbi dalam larutan sukrose 0.3 m.

Ulangan

Pj. Awal

(mm)

Pj. Akhir

(mm)

Dmt. Awal

(mm)

Dmt. Akhir

(mm)

Vol. Awal

(mm3)

Vol. Akhir

(mm3)

1

2

3

4

5

Rata-rata

DONGENG EVOLUSI MANUSIA

Persis seperti pernyataan evolusionis yang lain tentang asal-usul makhluk hidup, pernyataan mereka tentang asal-usul manusia pun tidak memiliki landasan ilmiah. Berbagai penemuan menunjukkan bahwa “evolusi manusia” hanyalah dongeng belaka.

Darwin mengemukakan pernyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man yang terbit tahun 1971. Sejak saat itu, para pengikut Darwin telah berusaha untuk memperkuat kebenaran pernyataan tersebut. Tetapi, walaupun telah melakukan berbagai penelitian, pernyataan “evolusi manusia” belum pernah dilandasi oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya di bidang fosil.

Kalangan masyarakat awam adalah yang umumnya tidak mengetahui kenyataan ini, dan menganggap pernyataan evolusi manusia didukung oleh berbagai bukti kuat. Anggapan yang salah tersebut terjadi karena masalah ini seringkali dibahas di media masa dan disampaikan sebagai fakta yang telah terbukti. Tetapi mereka yang benar-benar ahli di bidang ini mengetahui bahwa kisah “evolusi manusia” tidak memiliki dasar ilmiah. David Pilbeam, salah satu ahli paleontologi dari Harvard University, menyatakan berikut ini:

Bila anda mendatangkan seorang ilmuwan cerdas dari bidang ilmu lain dan memperlihatkan padanya sedikit bukti yang kita miliki, ia pasti akan berkata, ‘lupakanlah: tidak terdapat cukup bukti untuk meneruskannya. 45


KEANEKARAGAMAN KERA
Sepanjang sejarah, terdapat lebih dari 6000 spesies kera yang pernah hidup dan kebanyakan dari mereka telah punah. Fosil dari kera-kera punah ini memberikan sumber berlimpah bagi evolusionis. Mereka menulis skenario tentang evolusi manusia dengan cara menyusun sejumlah tengkorak, sekehendak hati mereka, berurutan dari yang paling kecil ke paling besar dan menyisipkan tengkorak-tengkorak dari sejumlah ras-ras manusia punah di antara susunan ini.
Ernst Mayr, salah satu pendiri Neo-Darwinisme, mengakui bahwa skenario “evolusi manusia” tidak memiliki bukti pada catatan fosil.

William Fix, penulis sebuah buku penting dalam bidang palaeoan-thropologi, berkomentar:

Terdapat banyak ilmuwan dan penyebar berita masa kini yang memiliki keberanian untuk berkata kepada kita bahwa ‘tidak ada keraguan’ tentang bagaimana manusia berawal. Andai saja mereka memiliki bukti. 46

Pernyataan tentang evolusi ini, yang “tanpa disertai bukti”, memulai pohon kekerabatan manusia dengan sejenis kera yang bernama Australopithecus. Menurut pernyataan tersebut, sejalan dengan waktu Australopithecus mulai berjalan tegak, otaknya tumbuh berkembang, dan melalui serangkaian tahapan untuk menjadi manusia yang kita dapati sekarang (Homo sapiens). Tetapi catatan fosil tidak mendukung skenario ini. Kendatipun pernyataan tentang keberadaan semua jenis bentuk peralihan, terdapat pembatas yang tidak dapat dilalui yang memisahkan fosil-fosil manusia dan kera. Bahkan, telah terungkap bahwa spesies-spesies yang dinyatakan sebagai nenek moyang bagi yang lain, ternyata merupakan jenis-jenis yang hidup sezaman pada periode yang sama. Ernst Mayr, salah satu pendukung terpenting teori evolusi di abad ke-20 mengakui kenyataan ini: “Rantai yang menghubungkan hingga Homo sapiens sebenarnya telah hilang”.47

CATATAN FOSIL MEMBANTAH EVOLUSI Skenario “evolusi manusia” tidak memiliki bukti dalam catatan fosil sebagaimana skenario-skenario evolusionis lain tentang makhluk hidup. Bertentangan dengan propaganda media masa, tidak ada bukti fosil apa pun yang menunjukkan bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama.

FOSIL MAKHLUK HIDUP

Tidak terdapat perbedaan antara fosil makhluk hidup berusia ratusan juta tahun yang lalu dengan kerabatnya yang masih hidup sekarang. Fakta ini sama sekali mematahkan pernyataan evolusi.

Teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup mengalami perubahan terus-menerus, dan selalu terus berkembang melalui peristiwa kebetulan. Akan tetapi, catatan fosil malah menunjukkan sebaliknya. Ketika kita mengamati fosil, kita akan mengetahui tidak adanya perbedaan antara bentuk kehidupan yang ada ratusan juta tahun yang lalu dengan kerabat mereka yang hidup sekarang. Ikan, reptil dan mamalia modern benar-benar sama persis dengan ikan, reptil dan mamalia yang muncul pertama kali di muka bumi. Sejumlah spesies makhluk hidup mengalami kepunahan, tetapi tidak ada spesies yang berubah menjadi spesies lain.
Hal ini menjelaskan bahwa seluruh spesies makhluk hidup diciptakan oleh Allah dalam keadaan telah berbeda satu sama lain, dan mereka tidak mengalami evolusi apa pun sejak saat mereka diciptakan.

FOSIL LEBAH
Fosil lebah berumur 60 juta tahun; tidak berbeda dengan lebah zaman sekarang.
CAPUNG DAN FOSILNYA
Tidak ada perbedaan antara fosil capung berumur 150 juta tahun ini dengan capung yang hidup sekarang.
Fosil semut berusia sekitar 100 juta tahun yang terawetkan dalam getah beku; tidak berbeda dengan semut yang ada sekarang.

TIDAK ADA PERUBAHAN PADA STRUKTUR SELAMA 300 JUTA TAHUN

Makhluk mirip udang yang dalam literatur ilmiah disebut Triops cancriformis ini tidak mengalami perubahan apa pun selama 300 juta tahun.

IKAN

Fosil ikan berumur 200 juta tahun (kanan) menunjukkan bahwa ikan purba dan kerabat modernnya tidaklah berbeda satu sama lain.

SERANGGA YANG TIDAK MENGALAMI PERUBAHAN

Spesimen hidup serangga dari kelas Baetidae ini dan fosilnya yang berumur 220 juta tahun tersimpan dalam getah membeku Perbandingan antara keduanya menunjukkan bahwa serangga ini belum pernah mengalami evolusi apapun selama rentang waktu yang lama ini.

BINTANG LAUT

Fosil bintang laut berumur 400 juta tahun dan bintang laut yang masih hidup.

NAUTILUS MASIH SAJA TETAP SEBAGAI NAUTILUS

Spesies invertebrata yang dikenal dengan nama Nautilus, yang banyak berkembang dan menyebar luas di lautan sekarang ini, juga ditemukan dalam jumlah besar dalam bentuk fosil pada lapisan Kambrium yang berumur 520 juta tahun. Sejak hari penciptaannya, Nautilus belum pernah mengalami evolusi apa pun.

TUMBUHAN PUN TIDAK BEREVOLUSI

“Evolusi tumbuhan” pun tidak lain hanyalah dongeng. Di samping, anda dapat melihat spesimen hidup spesies tumbuhan yang bernama Acer monspessulanum dan fosilnya yang berumur 30 juta tahun.

HOTEL SEMUT

Jika satu makhluk membantu makhluk yang lain, dan mempersiapkan lingkungan yang nyaman sesuai dengan kebutuhan makhluk tersebut, tentu kita tidak dapat mengklaim kerjasama ini terjadi dengan begitu saja. Kecocokan yang tepat satu dengan yang lain di antara makhluk yang tidak memiliki akal pikiran, dan tindakan yang mereka jalankan untuk menguntungkan satu sama lain, menunjukkan bukti bahwa mereka diciptakan dengan terencana. Makhluk-makhluk yang hidup bersama telah diciptakan dengan sifat atau ciri yang saling menguntungkan melalui perantaraan Pencipta yang tunggal, yaitu Allah. Kita dapat mengambil tanaman dan semut tertentu sebagai contoh khusus dari jenis pasangan makhluk yang saling menguntungkan ini.

Pada sejumlah tanaman terdapat lubang-lubang dalam yang disebut “domatia” dalam istilah biologi (gambar kecil). Satu-satunya fungsi domatia adalah sebagai tempat berlindung bagi koloni semut. Tumbuh-tumbuhan yang seperti itu memiliki lubang atau jaringan berupa jendela tipis yang memungkinkan semut masuk dan keluar tanaman dengan mudah. Di dalam ruang-ruang ini, ada makanan yang diproduksi oleh tumbuhan, yang tidak punya fungsi selain untuk memberi makan semut. Tidak tampak manfaat makanan ini bagi tanaman.9 Singkatnya, domatia merupakan struktur khusus yang telah diciptakan agar semut dapat bertahan hidup. Keseimbangan suhu dan kelembapan di lingkungan ini juga sangat ideal bagi semut. Di tempat-tempat yang seolah dipersiapkan khusus bagi semut ini, semut dapat hidup senyaman orang yang tinggal di hotel mewah.

Kita dapat memberikan contoh yang lain, yaitu Philidris, sejenis semut, dengan tanaman inangnya Dischidia major. Mereka membuat “produksi zat kimia” kolektif sepanjang hidupnya. Tanaman yang dibicarakan ini tidak punya akar yang menembus tanah, karenanya ia mendapat dukungan dari tanaman yang lain dengan cara melilitnya. Tanaman ini memiliki cara yang sangat menarik untuk meningkatkan perolehan karbon dan nitrogen. Semut punya wilayah pada tanaman ini, yang disebut “daun semut”, tempat semut merawat anak-anaknya dan menyimpan sisa-sisa organik (semut mati, bagian tubuh serangga lain, dll.). Tanaman dapat memanfaatkan sisa-sisa ini sebagai sumber nitrogen. Selain itu, permukaan-dalam dari ruang daun menyerap karbon dioksida yang dihasilkan oleh semut, sehingga mengurangi penguapan air melalui pori-pori.10 Pencegahan dehidrasi ini sangat penting bagi tanaman semut yang tumbuh di iklim tropis ini, karena, tanaman ini tidak memiliki akar dan tidak dapat mengambil air dari dalam tanah. Dengan demikian, semut memasok dua kebutuhan penting tanaman ini, sebagai imbalan atas tempat berlindung yang disediakan tanaman bagi mereka.

Kita tidak mungkin mengklaim bahwa struktur yang terlihat pada dua contoh ini terjadi karena kebetulan. Tanaman tidak mungkin menghasilkan zat makanan yang sesuai bagi semut dan mencocokkan kondisinya dengan semut secara kebetulan. Kerjasama antara semut dan tanaman ini adalah satu bukti lagi tentang keseimbangan mengagumkan yang diciptakan di bumi oleh Allah, sang Pencipta satu-satunya.

PEMBAWA PESAN DI TUBUH MANUSIA: SISTEM HORMON

Saat Anda membaca halaman ini, proses-proses yang tidak terhitung banyaknya sedang berlangsung di dalam tubuh Anda tanpa kesulitan apa pun, dan kesibukan rumit yang sebenarnya terjadi tidak Anda rasakan sedikit pun. Jumlah detak jantung Anda setiap detik, laju kalsium di tulang Anda, kadar gula di dalam darah Anda, jumlah air yang disaring ginjal setiap menit dan berbagai hal-hal rinci lainnya, terjadi sebagai hasil karya yang selaras-sejalan dari sel-sel di tubuh Anda. Tidak hanya seratus, seribu atau sejuta jumlahnya; ada sekitar 100 triliun sel di dalam tubuh Anda. Lalu, bagaimana keselarasan di antara sejumlah sel ini dapat berlangsung? Jawabannya adalah berkat sistem hormon tubuh Anda.

Kelenjar bawah-otak atau kelenjar lendir (pituitary gland) yang berukuran sebesar kacang polong berfungsi mengendalikan dan menyesuaikan produksi berbagai hormon di dalam tubuh. Kelenjar ini juga mengawasi dan mengatur kelenjar-kelenjar lainnya serta mengendalikan kadar hormon. Kelenjar ini bekerja di bawah kendali wilayah otak yang disebut “hipotalamus.” Kelenjar lendir tampak seperti sepotong daging. Kelenjar ini dapat mengetahui, berdasarkan data dari hipotalamus, hal yang dibutuhkan dalam setiap keadaan. Kelenjar ini menentukan sel khusus mana pada organ khusus apa yang perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan ini, mekanisme kimiawi sel-sel ini, struktur fisiknya, bahan yang perlu diproduksi dan kapan produksi ini harus dihentikan. Selain itu, melalui sistem komunikasi yang amat khusus, kelenjar ini memberikan perintah kepada semua unit agar kebutuhan ini dipenuhi.

Misalnya, tubuh manusia masih terus berkembang sampai akhir masa remaja. Bertriliun-triliun sel berlipat ganda dengan membelah diri, sehingga pertumbuhan jaringan dan organ dapat disempurnakan. Saat ukuran tertentu dicapai, aktivitas pertumbuhan di dalam organ terhenti. Kelenjar lendir inilah yang merasakan sampai kapan kita butuh tumbuh dan yang menghentikan pertumbuhan bila kita sudah mencapai ukuran yang sesuai. Kelenjar lendir, pada saat yang sama, juga menyesuaikan metabolisme zat tepung dan lemak di dalam tubuh. Bila diperlukan, kelenjar ini meningkatkan produksi protein di dalam sel.

Jika Anda merasa pusing atau mengalami kesedihan, Anda hanya perlu beristirahat sebentar dan kesedihan Anda seharusnya menghilang. Jika penyebab kesedihan ini adalah turunnya tekanan darah Anda, kelenjar lendir akan segera bereaksi. Molekul-molekul yang dikeluarkan oleh kelenjar lendir menyebabkan otot-otot di sekitar pembuluh balik (vena) mengalami kontraksi (mengerut). Kontraksi berjuta-juta otot dan penyempitan pembuluh vena meningkatkan tekanan darah sehingga Anda merasa lebih tenang.

Kelenjar lendir hanyalah salah satu dari beberapa wilayah yang mengeluarkan sejumlah hormon sekaligus. Selain itu, wilayah seperti kelenjar thyroid, kelenjar parathyroid, kelenjar adrenalin, pankreas, indung telur dan testis mengeluarkan hormon yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan. Jika terjadi kehilangan atau kesalahan fungsi di dalam salah satu wilayah ini, kehidupan tidak mungkin berlanjut. Sistem hormonal, seperti sistem-sistem lainnya di dalam tubuh, bekerja dalam keselarasan yang sempurna. Tidak diragukan lagi, Allah, yang Mahakuasa, yang membuat keterpaduan ini dan menciptakan sistem komunikasi sempurna ini di dalam tubuh manusia.

Gajah Binatang Raksasa


Gajah, binatang paling besar di darat, terdiri atas dua jenis utama: gajah Asia dan gajah Afrika. Gajah Afrika lebih besar dari gajah-gajah lainnya. Tingginya bisa mencapai 3,5 meter, beratnya mencapai kira-kira enam ton. Telinganya yang seperti kipas panjangnya dua meter , dan lebarnya 1,5 meter . Kalian dapat membayangkan, dengan tubuh yang sedemikian besar, kalian tak dapat memelihara gajah sebagai binatang piaraan.

Yang membuat gajah nampak berbeda adalah belalainya. Belalainya yang panjang, mirip dengan selang di kebun, memiliki 50 ribu otot. Apa yang kalian baca benar adanya; 50.000 otot! Lubang hidungnya berada di ujung belalainya. Gajah menggunakan belalainya untuk untuk meletakkan makanan dan air ke dalam mulutnya, untuk mengangkat benda-benda, dan, tentunya, untuk mencium bebauan. Belalai ini mampu membawa empat liter air. Mereka dapat menghisap air ini kedalam mulut dan meminumnya atau menyiramkannya ke tubuh mereka.

Yang mengejutkan, seekor gajah dapat mengambil sebutir kacang kapri mungil dengan belalainya – yang dapat mengangkat benda besar – memecahkan di dalam mulutnya lalu memakannya. Sungguh mengagumkan bahwa binatang sebesar itu dapat melakukan pekerjaan yang halus seperti itu. Belalai aneka fungsi ini dapat pula digunakan sebagai jari, terompet, atau kadang-kadang sebagai pengeras suara.

Selain itu, gajah menggunakan belalainya untuk menyiram air ke badannya untuk mandi atau menyemprotkan debu pada badannya untuk mandi debu. Akan tetapi, anak-anak gajah gagal menggunakan belalainya. Kadang mereka menginjak belalainya dan terjatuh. Kita barangkali melihatnya sebagai sesuatu yang lucu, akan tetapi sesungguhnya anak-anak gajah ini tidak menyukainya. Induk gajah menyertai anak-anaknya selama dua belas tahun. Selama enam bulan, induk gajah mengajari anak-anaknya, bagaimana menggunakan belalainya, dan dia tidak pernah bosan melakukannya.

Pada kedua sisi mulutnya, gajah memiliki dua gading yang runcing. Gading ini membantu mereka menjaga diri. Selain itu, seekor gajah menggunakan salah satu gadingnya untuk menggali tanah dan mencari air.

Gigi binatang ini – yang mengunyah tanaman-tanaman berserat – mudah aus. Oleh karena itu, Allah Tuhan kita telah memberi mereka suatu sifat yang sangat menarik: setiap gigi yang aus digantikan oleh gigi lain di barisan belakang.

Seekor gajah yang sedang tumbuh dapat memakan kira-kira 330 kilogram tanaman setiap hari. Jumlah ini sama dengan enam karung kecil jerami. Setiap hari, gajah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan.

Sekarang, kami akan sampaikan satu lagi informasi menarik tentang gajah. Pernahkah kalian berpikir bagaimana binatang besar berkulit tebal ini mendinginkan diri? Seperti yang mungkin kalian bayangkan, gajah tidak dapat berkeringat karena kulit tebalnya. Sebagai gantinya, ia mendinginkan diri dengan bantuan air dan lumpur yang mereka jumpai. Tentu saja, gajah memiliki cara lain untuk menyegarkan diri. Misalnya, mereka menggunakan telinganya sebagai kipas dan mendinginkan badannya dengan itu. Pembuluh darah yang tipis pada telinganya juga mendinginkan mereka dan menyegarkan seluruh tubuh.

Satu sifat gajah lainnya telah menyita perhatian para pemburu dan ahli binatang dari dulu. Hal yang mencengangkan mereka adalah gemuruh dari perut gajah. Ketika sedang bergemuruh, perut gajah mengeluarkan suara sangat keras. Akan tetapi yang menakjubkan bukanlah suara keras perutnya melainkan bagaimana gajah mengaturnya. Sesungguhnya suara keras tersebut tidak berkaitan sama sekali dengan pencernaan. Gajah-gajah membuat suara tersebut untuk mengetahui keberadaan kawannya. Yang lebih mencengangkan, ketika merasa terancam mereka tiba-tiba diam. Ketika ancaman tersebut berlalu, mereka mulai bersuara kembali. Berkat cara ini, gajah dapat berkomunikasi dengan sesamanya bahkan dari jarak empat kilometer.

Cerita perpindahan gajah selalu membuat ahli binatang kagum. Binatang ini dengan telinga lebar dan tubuh besarnya berpindah di musim kering dan selalu mengikuti jalan yang sama. Yang lebih menarik adalah mereka membersihkan sampah, seperti potongan kayu, yang mereka temukan dalam perjalanan.

Karena gajah merupakan binatang yang menyebar di wilayah yang luas, sangat penting bagi mereka untuk membangun “komunikasi” yang kuat. Gajah tidak menggantungkan komunikasi ini dari daya penciumannya yang tajam saja. Di samping itu, Allah telah menciptakan suatu organ di bawah keningnya yang menghasilkan suara parau. Berkat organ ini, gajah bercakap-cakap dengan sesamanya dalam bahasa kode rahasia yang tidak dimengerti oleh binatang lain. Suara parau gajah-gajah ini dapat mencapai jarak yang sangat jauh. Dengan demikian suara khusus yang dihasilkan gajah ini cocok untuk komunikasi jarak jauh.